NADIKABAR.COM β Mengeluh rasanya menjadi hal yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari macet, pekerjaan yang menumpuk, cuaca yang tidak menentu, sampai masalah dengan orang lain, semuanya bisa menjadi bahan keluhan.
Mengeluh sebenarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Dalam kondisi tertentu, menceritakan hal yang membuat kesal kepada orang lain justru dapat membantu seseorang mengeluarkan emosi, merasa didengar, hingga mulai mencari jalan keluar dari masalah.
Namun, persoalannya muncul ketika mengeluh berubah menjadi kebiasaan dan dilakukan terus-menerus tanpa ada upaya memahami masalah atau mencari solusi.
Seperti diberitakan ANTARA sebelumnya, psikolog kesehatan klinis di SelfWorks, Kerry Cannity mengatakan, "Mengeluh bisa bermanfaat jika hal itu memungkinkan kita meluapkan emosi negatif, mengomunikasikan perasaan, dan memulai proses pemecahan masalah."
Lantas, apa yang terjadi jika seseorang terlalu sering mengeluh?
1. Membuat pikiran lebih fokus pada hal negatif
Menurut Cannity, ketika mengeluh sudah menjadi kebiasaan, perilaku tersebut dapat membuat seseorang semakin terbiasa melihat sesuatu dari sisi negatif.
"Jika mengeluh menjadi kebiasaan, hal itu justru dapat mulai mengubah cara kerja otak ke arah pandangan yang lebih negatif," kata Cannity.
Kebiasaan tersebut membuat perhatian seseorang lebih mudah tertuju pada hal-hal yang membuat marah, kecewa, takut, atau frustrasi.
Dengan kata lain, masalah yang awalnya hanya menjadi satu bagian dari hari dapat terasa semakin besar karena terus dipikirkan dan dibicarakan.
Mengeluh memang dapat memberikan rasa lega untuk sementara. Namun, jika seseorang terus mengulang cerita mengenai masalah yang sama tanpa bergerak menuju penyelesaian, rasa frustrasi dapat kembali muncul setiap kali masalah tersebut dibicarakan.
Sejumlah psikolog juga membedakan antara curhat yang membantu seseorang memproses emosi dan kebiasaan mengeluh yang justru membuat seseorang terus berada dalam lingkaran pikiran negatif.
Psychology Today mencatat bahwa keluhan kronis dapat meningkatkan ketegangan mental dan fisik, sementara seseorang juga bisa menjadi semakin sulit melihat tindakan yang dapat dilakukan untuk menghadapi masalah.
Karena itu, rasa lega setelah mengeluh belum tentu berarti masalahnya sudah selesai.
3. Bisa membuat seseorang semakin sulit mencari solusi
Mengeluh dapat menjadi langkah awal untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, jika berhenti pada keluhan, seseorang bisa terjebak dalam pembicaraan yang sama.
Dalam kondisi seperti ini, perhatian lebih banyak digunakan untuk mengulang apa yang salah dibandingkan memikirkan apa yang masih bisa dilakukan.
Psychology Today menyebut kebiasaan mengeluh terus-menerus dapat membuat seseorang merasa tidak berdaya dan mengurangi dorongan untuk mengambil tindakan.
Padahal, setelah mengakui bahwa sesuatu memang membuat kesal, langkah berikutnya adalah menentukan apakah masalah tersebut bisa diperbaiki, diterima, atau setidaknya dikelola.
4. Mengganggu hubungan dengan orang lain
Keluhan yang terlalu sering juga dapat memengaruhi hubungan dengan orang-orang di sekitar.
Jika hampir setiap percakapan hanya berisi masalah, kemarahan, atau ketidakpuasan, lawan bicara lama-kelamaan dapat merasa lelah. Bukan berarti orang lain tidak peduli, tetapi mereka juga memiliki batas dalam menerima energi negatif.
"Jika setiap percakapan berubah menjadi ajang mengeluh, lama-kelamaan orang akan enggan melanjutkan percakapan tersebut," kata Mary McLaughlin, LCSW, terapis yang berspesialisasi dalam hubungan, seperti dikutip ANTARA dari Real Simple.
Hal serupa juga dijelaskan Cleveland Clinic. Venting atau meluapkan emosi dapat menjadi bagian dari proses menghadapi masalah, tetapi ketika berubah menjadi oversharing yang terus-menerus dan tidak memberi ruang bagi orang lain, hubungan dapat ikut terdampak.
5. Keluhan bisa membuat suasana hati ikut memburuk
Menariknya, dampak negatif dari mengeluh tidak hanya dirasakan oleh orang yang mengeluh. Orang yang mendengarkan keluhan secara terus-menerus juga dapat ikut merasakan dampaknya.
Psychology Today mengutip sejumlah studi yang menunjukkan bahwa mendengarkan keluhan dapat membuat suasana hati pendengar memburuk. Bahkan, orang yang menyampaikan keluhan juga belum tentu merasa lebih baik setelahnya.
Hal ini tentu berbeda dengan curhat kepada orang yang tepat dan dilakukan dengan tujuan mendapatkan dukungan. Dalam situasi seperti itu, seseorang bisa merasa dipahami tanpa harus terus berkutat pada masalah yang sama.
6. Bisa memperkuat pola pikir negatif
Otak manusia memang memiliki kecenderungan memperhatikan hal-hal yang dianggap mengancam atau bermasalah. Jika seseorang terus mengulang keluhan, perhatian terhadap sisi negatif tersebut dapat semakin dominan.
Karena itu, kebiasaan mengeluh bukan berarti harus dihentikan sepenuhnya. Yang perlu diperhatikan adalah pola dan tujuannya.
Kerry Cannity menyarankan agar seseorang memperhatikan apakah keluhan yang disampaikan membuat dirinya lebih memahami masalah atau justru semakin terjebak dalam rasa frustrasi.
Terapis Sarah Close juga menyarankan pertanyaan sederhana setelah seseorang selesai mengungkapkan keluhan, yakni apakah dirinya merasa lebih dipahami dan mendapatkan kejelasan, atau justru kembali masuk ke lingkaran frustrasi yang sama.
Mengeluh boleh, asal tidak berhenti di keluhan
Pada dasarnya, mengeluh adalah bagian normal dari kehidupan manusia. Seseorang tidak harus selalu terlihat positif dan memendam semua perasaan yang tidak menyenangkan.
Justru, membicarakan masalah dengan orang yang dipercaya dapat membantu seseorang merasa didengar dan lebih terhubung dengan orang lain.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika mengeluh menjadi respons otomatis terhadap hampir semua hal. Apalagi jika keluhan yang sama terus diulang tanpa membuat seseorang lebih memahami masalah ataupun mengambil langkah berikutnya.
Jadi, setelah mengeluh karena hari yang melelahkan, pekerjaan yang berantakan, atau masalah dengan orang lain, coba berhenti sebentar dan tanyakan kepada diri sendiri: apakah saya hanya ingin didengar, atau ada sesuatu yang sebenarnya ingin saya selesaikan?
Dengan begitu, mengeluh tidak hanya menjadi cara untuk melampiaskan kekesalan, tetapi juga bisa menjadi awal untuk memahami perasaan dan menentukan langkah selanjutnya.