Meski demikian, Prof Amien menegaskan keberadaan alat monitoring bukan berarti gempa bisa diprediksi secara pasti. Namun, pemantauan dapat menjadi langkah mitigasi untuk meningkatkan kewaspadaan.
"Kalau ada monitoring tadi mungkin kita bisa jadi lebih waspadalah. 'Wih, ini sudah bergerak ini ya,' misalnya gitu," ujarnya.
Sebelumnya, Plt Kepala BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan, Suwarto, tidak menampik bahwa keberadaan sesar aktif tersebut membawa potensi kegempaan bagi wilayah Surabaya dan sekitarnya. Berdasarkan data pemetaan, Sesar Waru memiliki potensi gempa maksimum hingga M 6,7, sementara Sesar Surabaya berpotensi hingga M 6,8.