NADIKABAR.COM — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di zona merah pada perdagangan Selasa (13/10). IHSG turun 0,17% ke level 5.925,98.
Sejumlah saham tercatat bergerak positif dan menjadi penopang indeks. EMAS naik 2,20%, disusul BREN yang menguat 1,67% dan AMMN sebesar 0,93%. Di sisi lain, DCII turun 3,12%, VKTR terkoreksi 10,24%, sementara BBRI melemah 0,96%.
Aktivitas investor asing mencatatkan net buy Rp5,89 miliar di pasar reguler. Jika memperhitungkan seluruh pasar, nilai net buy asing mencapai Rp561,60 miliar.
Dari 11 sektor saham di Bursa Efek Indonesia, tiga sektor berakhir melemah. Sektor Technology menjadi yang mengalami penurunan paling dalam, yakni 0,95%. Sementara itu, sektor Property memimpin penguatan dengan kenaikan 1,83%.
Sentimen dari bursa global juga cenderung terbatas. Dow Jones turun 0,35% ke 51.670, S&P 500 melemah tipis 0,02% ke 7.805, sedangkan Nasdaq turun 0,15% ke 27.204.
Pergerakan IHSG tersebut turut mencerminkan aktivitas pembelian pada sejumlah saham yang sebelumnya mengalami koreksi cukup besar. Arus dana asing di pasar reguler juga masih tercatat positif selama dua hari berturut-turut, meski nilainya relatif terbatas. Di pasar ETF, EIDO naik 0,34%, sedangkan MSCI Indonesia terkoreksi 0,55%.
SGER mencatat pertumbuhan pendapatan pada paruh pertama 2026. Pendapatan perseroan mencapai Rp4,33 triliun, naik 6,73% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,06 triliun.
Laba bersih SGER juga meningkat 8,83% secara tahunan menjadi Rp137,95 miliar dari Rp126,75 miliar. Perbaikan tersebut sejalan dengan kenaikan laba kotor yang mencapai 24,26% menjadi Rp301,27 miliar.
Kondisi itu membuat gross profit margin perseroan meningkat menjadi 6,96% dari 5,98% pada semester I-2025.
Di tengah pertumbuhan tersebut, kontribusi bisnis batu bara mengalami penurunan. Pendapatan segmen ini turun 5,12% YoY menjadi Rp3,17 triliun dan porsinya terhadap total pendapatan menyusut menjadi 73,20% dari sebelumnya 82,30%.
SGER kemudian memperoleh tambahan kontribusi dari bisnis lainnya. Pendapatan segmen pasir dan kapur melonjak menjadi Rp495,17 miliar, dibandingkan hanya Rp1,90 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, segmen kokas minyak bumi mulai menyumbang Rp379,61 miliar.
Adapun pendapatan dari segmen nikel turun 52,04% YoY menjadi Rp284,29 miliar. Segmen kelapa sawit juga mengalami penurunan tajam sebesar 98,77% menjadi Rp1,50 miliar.
Dari posisi keuangan, total aset SGER per semester I-2026 tercatat Rp6,01 triliun atau meningkat 6,51% secara year-to-date. Ekuitas perseroan juga tumbuh 9,10% YtD menjadi Rp2,58 triliun.
SOCI memperkuat armadanya dengan menambah dua kapal tanker pada kuartal III-2026. Salah satunya merupakan kapal pengangkut gas jenis Very Large Gas Carrier (VLGC) dengan kapasitas sekitar 54.000 DWT.
Satu kapal lainnya merupakan tanker produk minyak berkapasitas sekitar 3.500 DWT yang disiapkan untuk melayani pasar domestik. Penambahan dua kapal ini menjadi bagian dari langkah perseroan memperluas komposisi armada pada pengangkutan gas dan produk minyak.
Dengan tambahan tersebut, armada SOCI kini mencakup kapal pengangkut LNG serta sejumlah kapal tanker minyak dari tipe Medium Range, General Purpose, hingga Small Range.
Ekspansi armada ini dilakukan sejalan dengan fokus SOCI pada pengangkutan kargo cair untuk mendukung kebutuhan industri migas. Dari sisi kinerja, pendapatan neto SOCI pada semester I-2026 mencapai US$78,70 juta, tumbuh 3,30% YoY.
Segmen pelayaran menjadi salah satu penopang dengan pertumbuhan pendapatan 12,40% YoY. Pendapatan time charter meningkat 2,10%, sedangkan pendapatan spot charter mencatat kenaikan 126,90%.
CSRA akan membagikan dividen tunai interim sebesar Rp15 per saham. Dividen tersebut berasal dari laba periode yang berakhir pada 30 Juni 2026 dengan total nilai mencapai Rp30,75 miliar.
Pada semester I-2026, CSRA mencatat laba bersih Rp131,64 miliar. Angka tersebut turun 7,33% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp142,05 miliar.
Dividen interim yang ditetapkan perseroan setara dengan dividend payout ratio sebesar 23,36% terhadap laba bersih semester I-2026.
Sementara itu, saham CSRA pada perdagangan Selasa (13/10) ditutup di level Rp720 per saham. Dengan nilai dividen interim Rp15 per saham, dividend yield berdasarkan harga penutupan tersebut mencapai 2,08%.
Adapun cum date dividen CSRA untuk pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 22 Oktober 2026. Pembayaran dividen dijadwalkan pada 13 November 2026.
KETR - Buy 835-845 | TP 860-875 | SL 800
EMAS - Buy 8025-8100 | TP 8225-8300 | SL 7750
PTBA - Buy 3230-3250 | TP 3290-3320 | SL 3120
PANI - Buy 4730-4750 | TP 4830-4930 | SL 4500
ELSA - Buy 640-650 | TP 665-675 | SL 615
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.