NADIKABAR.COM — Para pemodal ventura Amerika Serikat dan raksasa teknologi mendukung sebuah institusi alternatif perguruan tinggi baru berdurasi dua tahun, yang menawarkan pendidikan AI native atau berbasis AI bagi kaum muda yang ingin merintis karier atau peluang wirausaha di bidang teknologi.

Horowitz Andreessen Academy di San Francisco, akan menerima sekitar 50 siswa di kelas pertama pada September 2027. Akademi ini didukung dana USD 35 juta dari perusahaan modal ventura Andreessen Horowitz dan tambahan USD 7 juta dari investor lainnya.

Dikutip NadiKabar dari Vn Express, mitra mereka meliputi Anthropic, Google, Meta, Nvidia, dan OpenAI, serta Anduril, Coinbase, Palantir, Replit, dan Stripe.

Angkatan pertama akan mengikuti program setahun tanpa biaya. Setiap siswa akan menerima kredit komputasi USD 50.000 dan anggaran perjalanan sebesar USD 5.000.

Akademi ini berencana ekspansi menjadi program dua tahun pada 2028. Menurut Fortune, biaya kuliah tahunannya diperkirakan setara universitas swasta elite, yakni sekitar USD 60.000 sampai USD 90.000.

Meski demikian, akademi ini tidak terakreditasi dan tidak memberikan gelar. Ia akan beroperasi sebagai perusahaan independen berorientasi laba. Akademi tersebut dipimpin Gagan Biyani, salah satu pendiri platform pembelajaran Udemy.

"Gagasannya adalah untuk menciptakan penawaran pendidikan AI-native agar para siswa siap bekerja di perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka, atau untuk mendirikan perusahaan teknologi mereka sendiri," kata Biyani.

Para siswa diharapkan menghabiskan hingga 80% dari waktunya untuk pembelajaran berbasis proyek, termasuk mengembangkan model AI, menciptakan produk, dan mengeksekusi ide mereka.

Mata kuliahnya diperkirakan mencakup bidang-bidang seperti riset AI, pengembangan software, kedirgantaraan, sistem industri, kesehatan, penulisan, dan budaya. Para siswa juga akan memiliki akses ke berbagai mentor, eksekutif teknologi, dan investor.

Pemimpin teknologi terkemuka, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang, CEO Microsoft Satya Nadella, CEO OpenAI Sam Altman, dan mantan kepala teknologi OpenAI Mira Murati, dijadwalkan mengunjungi kampus sebagai pembicara tamu.

Mitra-mitra perusahaan akan memberikan berbagai dukungan, termasuk software, komputasi, saran kurikulum, hingga akses ke kantor mereka. Beberapa siswa mungkin juga berpartisipasi dalam penempatan kerja, meskipun pekerjaan dan magang berbayar tidak dijamin.

Menurut Forbes, proses penerimaan akan menitikberatkan bukti hasil kerja seperti produk, proyek, atau bisnis yang telah dibuat pendaftar. Walau begitu, pendaftar tetap diwajibkan menyerahkan transkrip akademik dan skor tes, sementara proses seleksinya juga termasuk penilaian portofolio dan wawancara.

Biyani menyebut akademi ini tidak dimaksudkan sebagai bentuk penolakan terhadap pendidikan tinggi. Ini adalah pertaruhan bahwa model yang intensif, berpusat pada AI, dan berfokus pada dunia kerja dapat menawarkan jalur alternatif bagi kaum muda yang mengincar karier di bidang teknologi.

Proyek ini muncul di tengah makin maraknya eksperimen yang dilakukan Silicon Valley terhadap berbagai alternatif pendidikan universitas konvensional.

Investor miliarder Peter Thiel meluncurkan Thiel Fellowship tahun 2011, yang menawarkan pendanaan bagi kaum muda agar melewatkan atau meninggalkan bangku kuliah demi membangun perusahaan dan berbagai proyek lainnya.

Palantir juga memperkenalkan program fellowship berbayar yang lebih menekankan pada kerja praktik daripada sekadar kredensial akademik konvensional.