Ahli ornitologi di National University of Singapore (NUS), Movin Nyanasengeran, menyebut spesies burung yang hidup berdampingan dengan manusia seperti burung kerak dan merpati kemungkinan besar juga terlindung dari dampak kondisi El Nino. Mereka dinilai cenderung berada di dekat infrastruktur manusia.

"Spesies komensal adalah spesies yang hidup sangat dekat dengan permukiman manusia. Jadi, burung-burung seperti merpati batu, gagak rumah, dan kerak jawa merekalah yang mencari makan di pusat jajanan (hawker centre) dan area pengembalian nampan terbuka," kata Movin.

Karena burung-burung ini tidak bergantung pada makanan alami dan justru bisa mengandalkan kedekatan dengan limbah makanan manusia, sumber makanan serta populasi mereka akan tetap stabil terlepas dari apakah musim monsun tiba atau tidak. Sementara, cuaca akan sangat berpengaruh pada satwa liar yang masih bergantung pada sumber makanan alami.

Ini termasuk spesies yang beradaptasi dengan lingkungan perkotaan seperti merbah cerukcuk (yellow-vented bulbul) dan cabai bunga api (scarlet-backed flowerpecker) yang biasanya ditemukan di taman dan ruang terbuka hijau Singapura. Perilaku mereka mungkin menjadi lebih mirip dengan burung penghuni hutan asli saat musim monsun terdampak oleh kondisi El Nino.

Direktur kelompok manajemen satwa liar di National Parks Board (NParks), How Choon Beng, menyebut El Nino menyebabkan periode panas yang berkepanjangan dan berkurangnya curah hujan, yang dapat memicu stres pada satwa asli Singapura seperti babi hutan, kera ekor panjang, dan lutung banded Raffles yang terancam punah. Pada siang hari, burung-burung akan berusaha menghindari panas dengan bersembunyi di tempat teduh dan mengurangi pergerakan sehingga mereka menjadi lebih jarang terlihat.

Lihat juga Video: BMKG Prediksi El Nino Berpuncak di Desember atau Januari 2027