Hal ini bertujuan agar gravitasi tidak membantu racun mengalir lebih cepat ke pusat sistem peredaran darah, sekaligus meminimalisir pembengkakan hebat.
Luka gigitan sebaiknya ditutup dengan kain bersih yang kering. Hindari penggunaan kain basah atau kotor yang justru memicu infeksi sekunder. Jangan lupa untuk segera melepas aksesori seperti cincin atau jam tangan di sekitar area gigitan, sebab pembengkakan yang muncul nantinya bisa membuat benda-benda tersebut mencekik aliran darah.
Sembari melonggarkan pakaian untuk memberi ruang sirkulasi yang lebih baik, segeralah menuju fasilitas medis terdekat. Penanganan profesional adalah satu-satunya jalan keluar yang aman.
Di rumah sakit, dokter akan memberikan terapi antibiotik, pencegahan tetanus, hingga pemberian antivenom jika diperlukan. Untuk meredakan nyeri, penggunaan parasetamol biasanya diperbolehkan di bawah pengawasan medis.
Satu hal yang wajib diingat, jangan mengikat luka terlalu kencang (tourniquet) secara sembarangan, dan hindari mengonsumsi alkohol atau kopi setelah tergigit. Sebab, zat-zat tersebut dapat memengaruhi reaksi tubuh terhadap racun.
Pada akhirnya, meski ular sudah tak lagi bernapas, kewaspadaan tidak boleh tanggal ya, pembaca. Menjaga jarak adalah cara terbaik, sekaligus cara paling ampuh untuk melindungi diri dari bahaya yang tetap mengintai meski raga sang predator sudah terpisah dengan kepalanya. Tetap hati-hati, ya!
Artikel ini telah tayang di detikJogja