NADIKABAR.COM — Pendaftaran Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/SMK/sederajat masih dibuka hingga 27 September 2026. Pelaksanaannya akan digelar dalam beberapa gelombang.

Gelombang 1 TKA digelar pada 26-29 Oktober 2026 dan gelombang 2 pada 2-5 November 2026. Kemudian juga akan ada gelombang khusus untuk untuk siswa pendidikan kesetaraan yang hanya bisa aktif belajar pada akhir pekan.

Peserta nantinya juga akan mendapatkan Sertifikat Hasil TKA atau SHTKA. Sertifikat ini memiliki sejumlah manfaat, salah satunya adalah untuk mendaftar ke jalur prestasi penerimaan mahasiswa baru.

Namun, bagaimana dengan siswa yang gap year? Apakah SHTKA masih bisa digunakan untuk mendaftar perguruan tinggi pada tahun berikutnya?

Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM Kemendikdasmen) mengatakan SHTKA pada dasarnya tetap menjadi bukti sah capaian akedemik. Akan tetapi, sekolah atau kampus bisa memiliki kebijakan sendiri dalam menentukan syarat dan masa berlaku SHTKA untuk seleksi penerimaan peserta didik, khususnya jalur prestasi.

"Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) adalah sertifikat resmi berisi nilai TKA individu per mata pelajaran beserta kategorinya," kata BKPDM Kemendikdasmen, dikutip dari Instagram resmi pada Selasa (1/9/2026).

Pada setiap gelombang TKA SMA/sederajat, TKA dilaksanakan selama 4 hari. Kemendikdasmen RI juga menegaskan setiap siswa wajib mengerjakan TKA secara berurutan.

Apabila siswa sakit di tengah-tengah selama 4 hari tersebut, maka siswa harus ikut susulan, bukan ikut di gelombang selanjutnya.

"Satu siswa itu wajib mengerjakan di 4 hari urutan ya, sesuai dengan gelombang yang telah diatur ya Bapak Ibu ya. Jadi tidak bisa lompat, misalnya satu siswa sudah dipilihkan di gelombang satu semua untuk mengerjakannya. Kemudian di pelaksanaan utama hari Senin, Selasa bisa mengerjakan di waktu yang sesuai," kata Pengembang Penilaian Pendidikan Ahli Pertama, Suryo Atmojo dalam webinar Sapa Pendidikan-Pendaftaran TKA Jenjang SMA/Sederajat pada Kamis (27/8/2026).

"Kemudian Rabu, Kamisnya ternyata siswanya ini sakit, ya sudah otomatis langsung nanti ikut di susulan. Jadi tidak bisa mengikuti di gelombang selanjutnya," imbuhnya.