Sementara itu, Karin mengaku memperoleh tambahan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan digital selama mengikuti kompetisi. Ia juga harus mengatur waktu belajar dan berlatih di tengah aktivitasnya sebagai santri di pondok pesantren.
"Meski kita harus meluangkan waktu untuk belajar dan menguasai materi, bahkan terkadang harus mengurangi waktu bermain atau beristirahat, terlebih kita berada di lingkungan pondok pesantren, harus pintar-pintar membagi waktu," ujarnya.
Karin mengaku bangga sekaligus terharu setelah dinyatakan lolos ke babak final. Menurut dia, kompetisi tersebut menjadi pengalaman internasional pertamanya sekaligus kesempatan membawa nama madrasah ke tingkat Asia Pasifik.
"Tentu bangga, terharu, dan sedikit kurang percaya bisa sampai di tahap sekarang, karena ini adalah kompetisi internasional pertama bagi saya dan membawa nama madrasah ke tingkat internasional," katanya.
Faqih menyebut keberhasilan mereka tidak terlepas dari bimbingan guru, dukungan madrasah, serta bantuan PT Solusi Edukasi Internasional. Dua guru yang mendampingi mereka adalah Hermawan dan Dewi Mistika Sari.
Kepala MAUWH Tambakberas, Kabupaten Jombang, Faizun mengapresiasi pencapaian kedua murid tersebut. Ia menilai keberhasilan mereka melaju ke babak final menjadi dorongan bagi madrasah untuk terus mengembangkan kompetensi digital siswa.