NADIKABAR.COM — Terpal menjadi alas duduk sejumlah siswa SD Katolik Santa Teresia Danga, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM). Mereka kembali belajar di tenda darurat pascagempa M 7,7.
Meski harus belajar tanpa kursi dan meja, siswa-siswi tampak antusias mengikuti pembelajaran. Semangat itu terlihat saat mereka menerima materi dari guru di tenda darurat yang didirikan di halaman sekolah.
"Kami melihat siswa sangat antusias, gembira dan sukacita dalam mengikuti pembelajaran," ujar Kepala SD Katolik Santa Teresia Danga, Suster Bibiana Maria Immaculata Mbola, saat ditemui di sekolah tersebut, Senin (31/8/2026).
Bibiana menjelaskan proses pembelajaran di sekolah tersebut baru dimulai hari ini, setelah gempa bumi yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026). Sebanyak tiga tenda darurat didirikan oleh anggota Yonif 834/Wakangamere.
Keputusan untuk menggelar KBM di luar kelas dilakukan karena sejumlah ruangan sekolah terdampak dan mengalami keretakan. Selain itu, beberapa siswa masih merasa trauma ketika terjadi gempa susulan.
Kondisi tersebut membuat pihak sekolah memilih halaman sekolah sebagai tempat belajar. Tenda darurat pun menjadi ruang kelas sementara bagi para siswa.
"Sehingga proses pembelajaran di halaman sekolah menggunakan tenda darurat karena mengingat kalau di dalam kelas, takutnya saat terjadi gempa lagi mereka bisa berdesakan umtuk keluar," jelas Bibiana.
Para siswa kini harus menyesuaikan diri dengan suasana belajar yang berbeda dari biasanya. Tidak ada kursi dan meja yang bisa digunakan. Mereka duduk di lantai dan menulis dengan posisi jongkok.
Namun, kondisi tersebut tak menyurutkan perhatian siswa terhadap pelajaran yang diberikan guru.
"Sekarang mereka duduk di lantai dengan menulis harus jongkok, tetapi mereka juga fokus dan perhatian kepada guru, itu tetap," kata Bibiana.
Ia mengatakan materi pembelajaran juga disesuaikan dengan kondisi saat ini. Di lain sisi, pihak sekolah menerapkan sistem pembagian jam belajar.
Pada Senin, KBM diikuti kelas 6A dan 6B. Sedangkan Selasa-Jumat, pembelajaran dibagi untuk tiga rombongan belajar.
"Sistemnya seperti itu karena kami masih kekurangan sarana belajar seperti tenda darurat," ungkap Bibiana.
Sekolah tersebut masih membutuhkan tambahan 2-3 tenda darurat. Sebab, jumlah siswa mencapai 314 orang sehingga proses pembelajaran belum dapat berjalan seefektif seperti kondisi normal.
Meski begitu, guru dan siswa tetap berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi darurat. Setiap hari, siswa mendapat tiga mata pelajaran yang masing-masing diasuh oleh tiga guru.
"Soal efektif, itu efektif untuk masa darurat, tapi kalau sesuai situasi normal itu tidak efektif," beber Bibiana.
Di tengah kondisi tersebut, para guru tetap hadir untuk menjalankan tugas mengajar. Bibiana mengatakan seluruh gurunya memiliki kesiapan karena merasa terpanggil sebagai tenaga pendidik.
Bahkan, terdapat empat guru yang rumahnya turut terdampak gempa. Dua rumah masih dapat ditempati, sementara dua lainnya tidak bisa lagi digunakan karena temboknya rubuh.
"Memang ada dua rumah guru yang bisa ditempati, tetapi dua lainnya tidak bisa ditempati lagi karena temboknya rubuh. Namun, demi masa depan anak-anak, maka hari ini mereka semua hadir," terang Bibiana.