Sekolah tersebut masih membutuhkan tambahan 2-3 tenda darurat. Sebab, jumlah siswa mencapai 314 orang sehingga proses pembelajaran belum dapat berjalan seefektif seperti kondisi normal.
Meski begitu, guru dan siswa tetap berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi darurat. Setiap hari, siswa mendapat tiga mata pelajaran yang masing-masing diasuh oleh tiga guru.
"Soal efektif, itu efektif untuk masa darurat, tapi kalau sesuai situasi normal itu tidak efektif," beber Bibiana.
Di tengah kondisi tersebut, para guru tetap hadir untuk menjalankan tugas mengajar. Bibiana mengatakan seluruh gurunya memiliki kesiapan karena merasa terpanggil sebagai tenaga pendidik.
Bahkan, terdapat empat guru yang rumahnya turut terdampak gempa. Dua rumah masih dapat ditempati, sementara dua lainnya tidak bisa lagi digunakan karena temboknya rubuh.
"Memang ada dua rumah guru yang bisa ditempati, tetapi dua lainnya tidak bisa ditempati lagi karena temboknya rubuh. Namun, demi masa depan anak-anak, maka hari ini mereka semua hadir," terang Bibiana.