NADIKABAR.COM — Polisi mengungkap seorang siswa kelas 9 di salah satu SMP Negeri di Pulogadung, Jakarta Timur (Jaktim) yang mengedit foto rekan-rekannya menggunakan artificial intelligence (AI) hingga bermuatan vulgar, melaporkan soal penganiayaan. Siswa itu mengaku dianiaya karena ulahnya mengedit foto rekannya.
"Adapun sebelumnya korban (penganiayaan) mengedit foto siswi-siswi menjadi foto vulgar, lalu teman-teman siswi-siswi tersebut tidak menerima sehingga melakukan kekerasan fisik terhadap korban. Jadi yang melakukan penganiayaan teman-teman para korban karena kesal sudah mengedit foto para korban," kata Kasie Humas Polres Metro Jakarta Timur, AKP I Made Budi saat dihubungi, Kamis (24/9/2026).
Penganiayaan terjadi pada Selasa (15/9) sebuah rumah kosong di Pulogadung, Jakarta Timur. Setelah pulang sekolah, siswa itu dijemput oleh rekan-rekannya.
"Setelah di rumah kosong korban dipukul di bagian hidung, telinga, kepala, dan dada korban ditendang oleh beberapa pelaku (lidik). Salah satu pelaku mengancam menggunakan katana atau samurai," ujarnya.
Siswa itu juga dianiaya lagi pada Rabu (16/9) di waduk kawasan Kayu Putih. Siswa itu mengalami sejumlah luka akibat penganiayaan tersebut.
"Kemudian setiba di Waduk korban dipukul dibagian kepala, di gampar di bagian telinga kanan dan kiri, kemudian bagian perut korban beberapa kali ditendang oleh beberapa pelaku (lidik)," tuturnya.
Aksi penganiayaan terhadap siswa kelas 9 itu dipicu dugaan dia mengedit foto rekan-rekannya di SMP Negeri di Pulogadung, Jakarta Timur (Jaktim) menggunakan artificial intelligence (AI) hingga bermuatan vulgar. Pihak kepolisian bergerak melakukan penelusuran.
"Iya betul (informasi tersebut), namun saat ini belum ada laporan dari para korban," kata Kasie Humas Polres Metro Jakarta Timur, AKP I Made Budi saat dihubungi, Kamis (22/9).
Dari informasi yang beredar, disebutkan ada ratusan foto hasil editan dari rekan-rekan pelaku. Bahkan, dinarasikan, pelaku sampai menjual foto hasil editan itu.
Made mengatakan pihak kepolisian mengimbau para korban untuk melaporkan hal tersebut. Namun demikian, pihak kepolisian juga turun tangan mengumpulkan informasi terkait hal itu.
"Fotonya dijadikan stiker," ujarnya.