Hal senada diungkapkan oleh putri Sutan Sjahrir, Siti Rabyah Parvati Sjahrir atau yang akrab disapa Upik Sjahrir. Ia mengaku baru menyadari bahwa Sukabumi adalah titik krusial dalam peta pergerakan nasional ayahandanya.
"Begitu kembali ke Sukabumi, mereka mulai menjalin kembali hubungan dengan pejuang-pejuang lain," kata Upik.
Meski berstatus sebagai tahanan di Sukabumi, aturan penahanan saat itu masih memperbolehkan mereka menerima tamu. Tokoh-tokoh seperti Amir Sjarifuddin hingga kerabat Sjahrir datang silih berganti untuk berdiskusi. Dari ruang-ruang di Sukabumi inilah, konsolidasi dan strategi besar dirumuskan.
"Ayah bisa keliling mulai melakukan perjalanan setelah di Sukabumi ini, dan kemudian mengambil keputusan strategi di mana ayah akan bergerak di bawah tanah, sedangkan Bung Hatta harus di atas, bekerja sama dengan Jepang bukan dengan senang hati, tapi untuk mendukung perjuangan pemuda di bawah tanah," tutur Upik.
"Jadi menurut saya penting sekali (melestarikan tempat bersejarah) karena ini titik awal yang terlupakan sejarah," sambungnya.
Dengan diresmikannya museum ini, pemerintah berharap masyarakat luas, khususnya kalangan pelajar dan mahasiswa, dapat berkunjung serta mengambil teladan dari semangat juang para tokoh bangsa yang pernah diasingkan di bumi Sukabumi.