NADIKABAR.COM — Skema penyediaan air minum yang diprakarsai Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) bersama PDAM Toyo Wening dinilai menjadi solusi dalam menekan risiko kontaminasi bakteri E. coli sekaligus mendukung percepatan penurunan angka stunting di kawasan Margorejo, Kelurahan Gilingan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Manajer Air Limbah PDAM Toyo Wening Surakarta Bayu Tunggul di Surakarta, Kamis, menyampaikan bahwa kualitas air sumur dangkal yang biasa diandalkan warga pemukiman padat di perkotaan, termasuk wilayah Gilingan saat ini mayoritas telah terancam oleh tingginya cemaran bakteri E. coli.
"Di beberapa tempat di Kota Surakarta akses air minum aman susah didapat karena sumur dangkal banyak sekali yang tercemar bakteri E. coli, padahal Kelurahan Gilingan ini merupakan lokus penanganan stunting Pemkot Surakarta," kata dia, dalam acara "Temu Media Peresmian Fasilitas Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas dan Master Meter" itu.
Bayu menjelaskan, penyediaan air minum yang memenuhi standar kesehatan sangat menentukan kualitas hidup anak-anak dan Balita agar terhindar dari penyakit infeksi berulang yang berpotensi memicu tengkes atau stunting itu.
Namun demikian, perluasan jaringan perpipaan reguler di wilayah padat seperti Margorejo selama ini tertahan oleh aturan legalitas administratif, mengingat mayoritas rumah warga bersinggungan dengan lahan milik PT KAI.
Adapun sebelum hadirnya inovasi ini, skema penanganan yang biasa dilakukan pemerintah daerah hanya terbatas pada penyediaan hidran umum yang mewajibkan warga mengangkut air secara manual menggunakan ember ke dalam rumah.
"Kalau menggunakan hidran umum, warga harus mengambil air keluar dengan ember untuk seluruh kebutuhan harian, sehingga definisi akses air minum aman yang seharusnya sampai ke dalam rumah tidak terpenuhi," kata Bayu menambahkan
Hadirnya skema penyediaan air minum bertajuk Master Meter itu memungkinkan jaringan perpipaan utama dialirkan secara kolektif langsung ke dalam rumah-rumah warga, lengkap dengan skema subsidi tarif rendah sebesar Rp2.850 per meter kubik.
Sementara itu, Ketua Coca-Cola Foundation Indonesia Triyono Prijosoesilo menegaskan bahwa intervensi pembangunan infrastruktur air di lingkungan rawan sanitasi difokuskan untuk memenuhi hak dasar masyarakat atas air bersih secara berkelanjutan.
"Di kota-kota besar ada kelompok masyarakat yang membutuhkan akses air bersih tetapi terkendala untuk mendapatkannya secara langsung. Melalui Master Meter, kami menyediakan jaringan kolektif yang dikelola secara mandiri oleh warga," paparnya.
Adapun sebanyak 50 kepala keluarga di Margorejo yang telah menikmati fasilitas ini dalam satu tahun terakhir. Mereka mendapatkan kepastian pasokan air bersih untuk kebutuhan memasak dan konsumsi harian, yang menjadi pondasi penting bagi keberhasilan program sanitasi dan kesehatan lingkungan.
Triyono berharap fasilitas air minum tersebut bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat dan didukung sepenuhnya oleh pemerintah daerah. Dalam kesempatan ini, dia juga menyatakan bahwa perusahaan sebagai mitra pemerintah berkomitmen untuk terus memperluas wilayah dan program sosial, khususnya yang menyangkut ketahanan air di Indonesia.
"Kita dukung dengan memberikan sambungan ke kelompok masyarakat, dan juga dengan mendorong agar kelompok tadi bisa mandiri mengelolanya," kata dia.