NADIKABAR.COM — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengatakan stimulus fiskal yang menarik dapat mengubah potensi migas Indonesia menjadi produksi.

“Bagaimana meng-unlock potensi menjadi produksi dan bagaimana menciptakan daya saing investasi? Melalui stimulus fiskal yang atraktif,” ucap Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Desti Melanti dalam acara konferensi pers Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026 di Jakarta, Selasa.

Desti menjelaskan bahwa mandat dari hulu migas untuk mencapai dan memenuhi target produksi dan lifting migas nasional tidak terlepas dari sejumlah isu yang harus dikawal.

Isu-isu tersebut meliputi kepastian hukum, kepastian investasi, dan kepastian stimulus fiskal yang memberikan peningkatan investasi.

Desti meyakini daya tarik sektor hulu migas Indonesia akan menarik minat investor apabila hal-hal tersebut dapat terpenuhi. Selain itu, Indonesia juga perlu untuk terus melakukan penemuan-penemuan cadangan baru yang nantinya akan berkontribusi terhadap tercapainya target produksi nasional.

“Tentunya ini juga tidak lepas dari upaya komersialisasi yang sangat adaptif dan lincah, di mana kita tidak lagi menggunakan pendekatan yang konservatif,” ucap Desti.

Ia menyampaikan SKK Migas menggunakan berbagai skenario strategis yang mengedepankan optimalisasi penerimaan negara.

“Tentunya kegiatan komersialisasi tersebut tidak lepas dengan adanya akuntabilitas dan tata kelola yang terus kami perbaiki secara berkesinambungan. Pihak-pihak terkait terus melakukan penyempurnaan regulasi yang nantinya akan menciptakan kemitraan yang berkesinambungan,” ujar Desti.

Pemerintah mencatat prospek hidrokarbon Indonesia berasal dari 128 cekungan sedimen (basins). Dari jumlah cekungan tersebut, baru 20 cekungan yang telah dikembangkan untuk menopang produksi migas nasional.