Saat ditanya tentang kurikulum pelatihan, Aline menyampaikan bahwa BLK Garut mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Kementerian Ketenagakerjaan. Namun, karena peserta dipersiapkan untuk bekerja di luar negeri, pembelajaran diperkuat dengan praktik dan simulasi agar mereka memiliki gambaran mengenai kondisi kerja yang akan mereka hadapi.

Sementara itu, salah satu peserta lulusan SMK Negeri 1 Garut yang sebelumnya belum memiliki pengalaman di bidang kopi, Tiara, mengatakan informasi tentang program SMK Go Global ia dapatkan melalui media sosial. Ia kemudian mengikuti pelatihan karena memiliki keinginan untuk bekerja di luar negeri.

"Dengan bekerja ke luar negeri, saya ingin memperoleh pengalaman baru, mengenal budaya lain, sekaligus mempelajari cara bekerja di lingkungan internasional," kata Tiara saat ditemui, Kamis (17/9).

Selama pelatihan, Tiara mempelajari berbagai jenis kopi, teknik penyeduhan, resep minuman, hingga manual brew. Ia menyadari bahwa kesiapan bekerja di luar negeri membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis.

Kemampuan bahasa, pemahaman budaya, kedisiplinan, dan kemampuan beradaptasi juga menjadi bagian penting yang harus terus dipersiapkan. Itu semua akan membuatnya lebih percaya diri dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Selain itu, peserta asal Garut bernama Muhammad Zaki mengemukakan bahwa sebelum mengikuti program SMK Go Global, dirinya belum memiliki pengalaman sebagai barista.

"Saya mendapatkan informasi program ini melalui sosial media dari BP3MI Jawa Barat. Saya jadi tertarik karena saya mempunyai keinginan yang tinggi untuk menjadi seorang barista yang profesional, tentunya di luar negeri atau di kancah internasional," jelas Zaki.

Selama pelatihan, Zaki belajar mengenal berbagai jenis kopi, teknik penyeduhan, hingga cara membuat beragam minuman berbahan dasar kopi.