Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim mengatakan, kenaikan skor membaca murid Indonesia harus diperkuat dukungan guru dan orang tua. Caranya yakni dengan pembiasaan dan budaya membaca buku-buku fiksi atau non fiksi, memahami ragam teks, grafik, infografis, tabel, statistik sederhana yang berkaitan dengan konten materi pelajaran.

"Pembiasaan dan pembudayaan membaca buku fiksi, nonfiksi, dan ragam jenis teks itu adalah tugas semua guru mata pelajaran, bukan hanya guru matematika dan bahasa Indonesia," kata Satriwan dalam keterangan tertulis yang diterima detikEdu, Rabu (9/9/2026).

Ia menambahkan, budaya membaca di sekolah akan lebih optimal jika pemerintah menghadirkan fasilitas perpustakaan dengan buku-buku bacaan berkualitas. Anggaran untuk buku perpustakaan seharusnya menjadi prioritas.

Terpisah, anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) 2026 dipangkas hampir setengahnya dari tahun lalu, dari Rp 721 miliar pada 2025 menjadi Rp 377 miliar pada tahun ini.

Kepala Perpusnas, Aminudin Aziz menjelaskan, efisiensi anggaran berdampak terhadap aktivitas literasi seperti distribusi buku ke daerah-daerah, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

"Karena pada tahun 2026 program ini dihentikan karena tidak memiliki anggaran, padahal justru tuntutan masyarakat untuk bacaan bermutu di desa sangat tinggi," ungkap Aminudin.