NADIKABAR.COM — Penutupan Bandara Soekarno-Hatta selama lebih dari 24 jam akibat erupsi Gunung Anak Krakatau bukan hanya menguji operasional penerbangan. Situasi tersebut juga menjadi ujian bagi pemerintah, pengelola bandara, dan maskapai dalam menyampaikan informasi yang cepat, jelas, dan menenangkan penumpang di tengah ketidakpastian.
Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI) menilai masih ada ruang perbaikan dalam komunikasi kepada penumpang selama bandara ditutup. Dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (9/9/2026), Ketua APJAPI Alvin Lie mengatakan salah satu pelajaran penting dari kejadian ini adalah pentingnya penyampaian informasi yang efektif dan konsisten.
"Mitigasinya sebenarnya yang kita bisa belajar dari pengalaman kemarin ini adalah efektivitas komunikasi. Baik itu dari Kementerian Perhubungan, dari airport, maupun dari masyarakat penerbangan," ujar Alvin.
Menurut dia, kurangnya kepastian informasi membuat sebagian penumpang memilih tetap bertahan di bandara. Mereka khawatir penerbangan kembali beroperasi sewaktu-waktu dan takut tertinggal jika meninggalkan area bandara.
"Kita perhatikan tidak sedikit juga penumpang yang pilih untuk tetap menunggu di bandara, karena kalau mendadak nanti bisa terbang mereka tidak mau ketinggalan. Ini kan menunjukkan masih kurangnya kepercayaan terhadap efektivitas komunikasi tentang update situasi," kata Alvin.
Alvin mencontohkan maskapai yang bisa menunjukkan komunikasi efektif dengan menunjuk Singapore Airlines. Menurutnya, maskapai tersebut mengambil keputusan cepat dengan mengumumkan pembatalan seluruh penerbangan dari dan menuju Jakarta pada Senin dan Selasa, meskipun saat itu belum ada kepastian kapan Bandara Soekarno-Hatta akan kembali beroperasi normal.
"Mereka berani mengambil risiko itu, walaupun kita belum mengumumkan tanggal 7 itu buka atau tutup. Mereka mengambil inisiatif, daripada pelanggannya tidak ada kejelasan, mereka nyatakan full tidak diterbangkan," ujar Alvin.
Informasi pembatalan itu disampaikan kepada penumpang melalui berbagai kanal, mulai dari email, WhatsApp, hingga sambungan telepon. Dengan cara tersebut, penumpang memperoleh kepastian lebih awal sehingga tidak perlu menunggu berjam-jam di bandara tanpa informasi yang jelas.
Saat Bandara Soekarno-Hatta kembali dibuka, Singapore Airlines juga segera menghubungi penumpang untuk memberikan pilihan, apakah tetap terbang sesuai jadwal baru atau dialihkan ke maskapai lain yang sudah beroperasi.
Alvin berharap pola komunikasi seperti itu dapat menjadi contoh bagi maskapai nasional dalam menghadapi situasi darurat di masa mendatang.
"Ini yang saya harapkan bisa menjadi contoh bagi airlines kita untuk memberikan pelayanan lebih baik lagi," kata dia.
Selain Singapore Airlines, Alvin juga menyinggung pengalaman TransNusa saat terjadi gangguan penerbangan akibat aktivitas vulkanik di Bali beberapa tahun lalu. Ketika kondisi operasional masih belum menentu, maskapai tersebut memilih menghentikan penerbangan dan langsung mengembalikan dana tiket kepada penumpang.
"Walaupun kondisi Bali masih buka-tutup, mereka tidak mau repot, langsung refund. Itu yang saya lihat bagus dilakukan oleh TransNusa pada waktu itu, yang lain saya belum lihat," ujar Alvin.
Bagi APJAPI, pengalaman penutupan Bandara Soekarno-Hatta kali ini menunjukkan bahwa dalam situasi krisis, kecepatan dan kejelasan informasi sama pentingnya dengan upaya memulihkan operasional penerbangan. Penumpang tidak selalu membutuhkan kabar baik, tetapi mereka membutuhkan kepastian agar bisa mengambil keputusan dengan tenang.