NADIKABAR.COM — Ratusan sopir logistik memblokir pintu masuk Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, selama dua jam akibat kekecewaan atas kemacetan parah yang melumpuhkan jalur logistik berhari-hari. Aksi pemblokiran tersebut akhirnya mencair setelah otoritas pelabuhan menyepakati enam poin penting bersama perwakilan demonstran.

Mediasi darurat digelar langsung di lokasi oleh jajaran Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang untuk menghentikan kebuntuan.

"Kami meminta perhatian serius dari Presiden, Menteri Perhubungan, hingga Menteri AHY. Kemacetan parah di Pelabuhan Ketapang ini bukan masalah sepele karena langsung memicu terhambatnya pasokan logistik nasional ke wilayah Indonesia Timur," tegas Koordinator Aksi, Darmawan, Kamis (3/9/2026).

Hasil perundingan menyepakati enam langkah konkret, meliputi penataan muatan berdasarkan tonase, penambahan armada kapal bantuan, optimasi jumlah trip pelayaran, percepatan penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) oleh KSOP, serta penegakan kedisiplinan tegas bagi sopir maupun petugas pelabuhan yang melanggar aturan.

Usai kesepakatan ditandatangani, massa demonstran membubarkan diri secara tertib dan arus kendaraan mulai diurai. Meski demikian, hingga saat ini antrean kendaraan logistik menuju pelabuhan masih terpantau mengular sepanjang 5 kilometer.

Berikut kesepakatan 6 poin bersama: