NADIKABAR.COM — Komunitas sopir lokal menolak keras kehadiran sopir taksi online yang mengantar dan menjemput wisatawan di Desa Wisata Tetebatu, NTB.

Taksi online dianggap merugikan mereka sebagai penyedia jasa transportasi lokal. Para sopir itu pun menolak taksi online yang akan menjemput wisatawan di desa wisata yang berada di wilayah Kecamatan Sikur, Lombok Timur tersebut.

Humas Himpunan Pengusaha dan Pekerja Jasa Wisata (HIPPJATA) kawasan Rinjani Selatan, Kusma Adnan, mengatakan penolakan dimaksudkan untuk memberikan peluang bagi para penyedia jasa wisata lokal, khususnya sopir. Sopir lokal telah ada di setiap destinasi wisata.

"Kami tidak mengizinkan taksi online datang untuk menjemput tamu di wilayah kami, kecuali dropping. Biakan itu jatah sopir setempat," kata pria yang akrab disapa Uncle Kus tersebut, Minggu (13/9).

Kehadiran taksi online, terang Uncle Kus, telah merugikan para penyedia jasa transportasi lokal. Menurutnya, setelah taksi online masuk menjemput turis, para sopir lokal hanya menjadi penonton di wilayah sendiri.

"Itu kan dapur teman-teman driver lokal, jangan sampai hanya menjadi penonton di tengah geliat aktivitas wisata di wilayah sendiri. Itu sebagai dapur teman-teman yang ada di sini," ujar Uncle Kus.

Tercatat ada sekitar 40 sopir yang tergabung dalam komunitas driver. Para sopir bukan hanya berasal dari Desa Tetebatu, melainkan ada enam desa wisata yang lain, mulai dari Desa Kembang Kuning, Desa Tetebatu Selatan, Deaa Kotaraja, Desa Loyok, Desa Pringga Jurang, dan Desa Montong Gading.

"Sudah lama teman-teman ini mangkalnya di Tetebatu, makanya mereka bergabung menjadi satu komunitas," jelas Uncle Kus.

Uncle Kus mengakui tarif taksi online lebih murah dibandingkan harga yang diberikan oleh sopir lokal. Hal ini membuat para tamu lebih memilih menggunakan taksi online.

"Sedang kami diskusikan solusi yang terbaik karena yang memesan ini tamu hotel karena tarifnya jauh lebih murah dibanding tarif lokal. Teman-teman harus ada yang siap mengantar tamunya dengan tarif taksi online, tetapi ini juga tentu merugikan karena harga yang tidak sesuai dengan jarak tempuh," imbuh Uncle Kus.

Artikel ini telah naik di NadiKabar.