Keluarga sebagai agen sosialisasi utama berperan menanamkan nilai, norma, tanggung jawab, serta kemampuan anak mengendalikan perilaku dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Tanggung jawab pembinaan remaja tidak hanya berada pada keluarga, tetapi juga masyarakat, sekolah, lembaga keagamaan, dan pemerintah.
Masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang aman, sedangkan sekolah perlu memperkuat pendidikan karakter serta memberikan pendampingan kepada siswa yang menunjukkan perubahan perilaku atau terindikasi terlibat dalam aktivitas berisiko.
Media sosial sebagai salah satu agen sosialisasi juga dapat mempengaruhi pola interaksi dan cara pandang remaja. Melalui komunitas digital dan paparan berbagai konten, media sosial dapat menjadi ruang pembentukan identitas serta sarana menunjukkan eksistensi diri.
Arwan menegaskan pengaruh media sosial terhadap suatu kasus kekerasan perlu ditelusuri lebih lanjut berdasarkan bukti yang tersedia.