"Tentunya, harus ada rasionalisasi yang terukur. Setiap sekolah cukup fokus membina satu hingga dua cabang Olimpiade. Misalnya atletik dan pencak silat atau renang dan perahu naga," katanya.

Pilihan cabang Olimpiade yang dibina, kata dia, perlu disesuaikan dengan kearifan lokal wilayah setempat. Misalnya, SR-SNT di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang bisa difokuskan pada lari jarak menengah dan tinju.

Kemudian, di Sumatra Selatan bisa fokus di panahan dan karate. Sementara di Sulawesi Tenggara fokus ke dayung dan sepak takraw.

Ia mengatakan bahwa jika kolaborasi itu mampu diwujudkan, maka visi besar SR dan SNT akan lebih relevan dan berdampak. Tidak hanya berperan mengatasi problem pendidikan di kalangan masyarakat bawah, tapi juga melahirkan calon-calon pemimpin sekaligus atlet-atlet berprestasi.

"Tentu saja gagasan ini harus diimbangi dengan kajian dan pertimbangan yang matang. Kemenpora harus duduk bersama dengan pengelola SR dan SNT untuk menggarap detail implementasinya agar tepat sasaran dan berjalan efektif," katanya.