"Kami mengawasi mereka selama 24 jam, sehingga ada pengasuhan yang kami terapkan di situ yang membangun karakter mereka. Ada peran wali asuh dan wali asrama sebagai pengganti orang tua," kata Satria.

Selain pendidikan karakter, SRMP 18 Lombok Barat juga menerapkan pendekatan inklusif dengan menerima siswa dari keluarga miskin dengan berbagai latar belakang dan kemampuan akademik.

Satria menuturkan siswa yang mengalami keterlambatan membaca, terlibat perkelahian atau menghadapi persoalan lainnya tidak serta-merta dikeluarkan dari Sekolah Rakyat.

SRMP 18 Lombok Barat terlebih dahulu melakukan asesmen untuk memahami persoalan yang dihadapi siswa sebelum menentukan bentuk penanganan yang diperlukan.

"Kami minta bantuan pihak Sentra Paramita sebagai perwakilan Kementerian Sosial di NTB, yaitu dari psikolog untuk memeriksa," papar Satria.