Jika tercapai, target tersebut mencerminkan pertumbuhan laba bersih hingga 570% dibandingkan tahun sebelumnya.

JSMR menganggarkan capex sekitar Rp12 triliun pada 2026. Sampai semester I-2026, realisasi belanja modal perseroan telah mencapai Rp4,40 triliun.

Anggaran tersebut diarahkan untuk mempercepat pembangunan serta pengoperasian lima proyek jalan tol. Proyek yang dimaksud meliputi Jakarta-Cikampek II Selatan seksi Setu-Sadang, Akses Patimban, Jogja-Bawen, Jogja-Solo, dan Probolinggo-Banyuwangi.

Untuk Tol Jogja-Bawen, Seksi 6 Ambarawa-Bawen sepanjang 4,98 kilometer ditargetkan mulai beroperasi pada November 2026. Sementara Seksi 1 Yogyakarta-SS Banyurejo ditargetkan rampung konstruksinya pada akhir September 2026.

JSMR menargetkan Tol Akses Patimban sepanjang 14 kilometer dapat mulai beroperasi pada 2028. Sementara pada ruas Probolinggo-Banyuwangi dengan total panjang 49,68 kilometer, Seksi Paiton-Besuki telah memasuki tahap Uji Laik Fungsi Operasi (ULFO).

Ruas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026 atau awal 2027. Secara keseluruhan, JSMR menargetkan tambahan sekitar 62 kilometer jalan tol dapat beroperasi pada akhir 2026 hingga awal 2027.

BMAS berencana melaksanakan penambahan modal melalui PMHMETD IV atau rights issue. Perseroan menetapkan rasio 655:104 dengan jumlah saham baru maksimal 2,87 miliar saham.

Jumlah tersebut setara dengan 13,70% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah pelaksanaan PMHMETD IV. Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp350 per saham.

Dengan skema tersebut, BMAS berpotensi memperoleh dana sekitar Rp1,01 triliun. Seluruh dana hasil aksi korporasi tersebut akan digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung peningkatan penyaluran kredit.

Kasikorn Vision Financial Company Pte. Ltd. (KVF), sebagai pemegang saham utama BMAS dengan kepemilikan saat ini sebesar 86,03%, menyatakan akan melaksanakan seluruh HMETD yang menjadi haknya. Termasuk HMETD yang dialihkan dari Kasikornbank (KBANK).