NADIKABAR.COM — Jaringan kedai kopi raksasa internasional Starbucks pada Selasa (29/9) membuka dua gerai di Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut, yang menandai debutnya di daerah tersebut sekaligus ekspansi terbaru di Tiongkok, pasar terbesar keduanya setelah Amerika Serikat (AS).
Gerai-gerai itu berlokasi di Urumqi, ibu kota daerah otonom tersebut. Satu terletak di Grand Bazaar yang ikonik dan satu lagi di Bandar Udara Internasional Tianshan Urumqi. Gerai utama Grand Bazaar menonjolkan desain khas yang terinspirasi dari siluet kanopi bazar tradisional, dengan interior yang menampilkan elemen-elemen khas Xinjiang seperti sutra Atlas dan alat musik etnik. Kedua gerai itu telah meluncurkan menu yang terinspirasi dari cita rasa lokal serta minuman eksklusif lainnya, seperti teh susu milk-skin-flavored salty.
"Memasuki Xinjiang tidak hanya menandai perluasan lebih lanjut jaringan gerai kami, tetapi juga memungkinkan kami untuk terlibat secara mendalam dengan pasar dinamis ini dan membangun hubungan yang tulus serta langgeng dengan para pelanggan kami di sana," ungkap Molly Liu, CEO Starbucks China , dalam sebuah pernyataan tertulis.
Pembukaan gerai-gerai tersebut menyusul kemitraan Starbucks dengan perusahaan modal ventura China , Boyu Capital, untuk mengoperasikan bisnis ritelnya di China.
Berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani pada November tahun lalu, Boyu dan Starbucks akan mengoperasikan usaha patungan dengan Boyu memegang hingga 60 persen kepemilikan dalam operasi ritel Starbucks di China, sementara Starbucks akan mempertahankan 40 persen sisanya di usaha patungan itu, serta tetap memiliki merek Starbucks dan melisensikan merek tersebut beserta kekayaan intelektualnya kepada entitas baru.
Zhang Yu, seorang pejabat di administrasi daerah untuk regulasi pasar, menyatakan Xinjiang telah menjadikan "ekonomi gerai pertama", sebuah indikator vitalitas komersial perkotaan dan daya tarik konsumen, sebagai kunci utama untuk mendorong permintaan dan konsumsi domestik. Zhang menambahkan bahwa Xinjiang akan terus menyempurnakan kebijakan dukungan bagi gerai-gerai pertama, meningkatkan efisiensi persetujuan, dan mengoptimalkan lingkungan bisnis.
China kini menjadi pasar terbesar kedua Starbucks setelah AS, dengan perusahaan tersebut mengoperasikan sebanyak 16.933 gerai per 28 Juni 2026, menurut hasil kuartal ketiga tahun fiskal 2026 Starbucks.
Ekspansi terbaru itu dilakukan saat Starbucks sedang merestrukturisasi bisnisnya di Amerika Utara, di mana perusahaan tersebut pekan lalu mengumumkan rencana untuk menutup 250 gerai kopi yang berkinerja kurang memuaskan di kawasan itu. Starbucks memasuki pasar China ada Januari 1999 dengan membuka gerai pertamanya di Beijing. Seiring budaya kopi yang mulai berakar dan memperoleh popularitas, jaringan tersebut secara bertahap memperluas jejaknya di seluruh China. Pada 27 September 2026, Starbucks mengoperasikan sebanyak 8.342 gerai di China, naik 331 gerai dari akhir tahun fiskal 2025, menurut data tahun fiskal 2026 perusahaan itu.
Ekspansi yang telah berlangsung lama ini mencerminkan bagaimana merek-merek asing mencari peluang di pasar konsumen Tiongkok yang terus berkembang. Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar menyatakan China mencatat 35.000 perusahaan bermodal asing yang baru didirikan pada paruh pertama (H1) 2026, naik 7 persen secara tahunan (year on year). Data terpisah dari Kementerian Perdagangan China menunjukkan hampir 4.800 perusahaan bermodal asing meningkatkan investasi mereka di Tiongkok pada H1 2026.