Hanya saja jumlah kedai baru yang dibuka diperkirakan hanya 440 lokasi secara global selama tahun fiskal ini. Jumlah ini turun dari target yang sebelumnya diumumkan yaitu 600 hingga 650 lokasi.
Sebelumnya CEO Starbucks, Brian Niccol, sudah melakukan penutupan gerai dengan jumlah serupa tahun yang lalu. Penutupan kala itu bahkan dilakukan bersamaan dengan PHK karyawan, sebagai bagian dari upaya restrukturisasi senilai US$ 1 miliar.
Selama dua tahun menjabat, Nicol telah memimpin rencana jangka panjang jaringan kedai kopi itu untuk merombak bisnisnya dan membawa Starbucks kembali ke jalur pertumbuhan. Di kawasan Amerika Utara, ia bahkan telah meluncurkan program untuk renovasi gerai, peningkatan layanan, dan penyederhanaan menu.