NADIKABAR.COM — Perum Bulog menjalin koordinasi dengan pengusaha swasta yang tergabung dalam Perhimpunan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) untuk mempercepat dan memperluas penyaluran beras premium ke jaringan ritel modern yang belakangan ini sedang mengalami kelangkaan stok.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan secara mandiri Bulog bisa menyalurkan sekitar 600 ton beras premium per hari, termasuk ke ritel-ritel modern. Namun, porsi tersebut baru memenuhi sekitar 10% dari total kebutuhan beras premium nasional.
"Untuk beras premium, itu per hari kami sekitar 600 ton. Itu yang kami salurkan ke seluruh ritel di Tanah Air. Nah ini kan baru 10% dari kebutuhan nasional. Nah yang sisanya 90% itu didukung dan disupport oleh teman-teman pihak swasta," kata Rizal.
Guna menutupi sisa 90% kebutuhan tersebut, Rizal mengatakan Bulog akan berkoordinasi langsung dengan Perpadi agar para pengusaha penggilingan beras swasta yang tergabung di dalamnya ikut mendorong peningkatan volume pengiriman ke sektor ritel modern.
"Juga membantu untuk mengomunikasikan dengan teman-teman Perpadi seluruh Tanah Air untuk mendukung penyaluran beras premium di ritel-ritel modern. Nah kemudian harapan kami ada tambahan 10 kali lipat dari masing-masing pengusaha-pengusaha di masing-masing daerah," ujar Rizal.
Di luar itu, sebagai langkah jangka panjang untuk mempermudah rantai distribusi hingga ke tingkat pelosok, Bulog juga akan menyalurkan beras baik kualitas medium ataupun medium ke gerai-gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) atau Kopdes.
"Dalam waktu dekat akan dilaunching adanya koperasi desa Merah Putih. Nah ini juga nanti akan menambah untuk penyaluran beras-beras baik beras medium maupun beras premium di desa-desa masing-masing," pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama Sekretaris Utama (Sestama) Bapanas, Ito Hediarto, menegaskan stok beras secara nasional berada dalam kondisi aman. Ia menjelaskan bahwa kendala keterbatasan pasokan beras di sejumlah gerai ritel modern bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan dari hulu, melainkan akibat pembagian rantai pasok dari pusat distribusi (Distribution Center/DC) ke toko ritel yang belum merata.
"Kalau di ritel modern itu kan dikirim ada DC ya, ada DC di situ kemudian ritel modern itu semua ngambil di DC. Nah kadang-kadang ada DC ini mungkin berteman yang lain membaginya tidak rata sehingga ada yang ritelnya penuh, ada yang kurang," ujar Ito.
Ito menegaskan sampai saat itu Bapanas terus mengawal ketat penyaluran beras untuk memastikan ketersediaan pasokan di berbagai daerah. Baik itu beras medium, SPHP, hingga premium
"Nggak ada masalah, beras aman. Medium, SPHP, premium penyaluran distribusinya yang kita jaga ketat," papar Ito.
"(Penyaluran beras premium) kita tinggal kawal dari DC ke ritel-ritel karena kan, ini kan informasi dari ritel kan, dari ritel kok kurang tapi begitu ritel sebelah kok penuh, yang penuh enggak bicara. Tapi kita dari ritel yang kurang kan ngobrol. Nah, kita menjaga DC-DC ini supaya menyalurkan ke ritel secara rata," terangnya.