"Layak dipantau karena pergerakannya dipengaruhi oleh perbedaan kebijakan suku bunga, data ekonomi, serta perubahan sentimen risiko global," ujar Dandy.

Sementara itu, Perencana keuangan Andy Nugroho menilai investasi valas saat ini bisa menjadi pilihan yang menguntungkan, asalkan ditujukan untuk rentang waktu menengah hingga panjang atau minimal tiga tahun.

Menurut Andy, Investor bisa meraup untung jika rupiah terus melemah terhadap dolar AS, tetapi harus bersiap menghadapi potensi kerugian apabila rupiah ternyata berbalik menguat.

Andy juga menyarankan investor untuk tak hanya terpaku pada valas dan memperhatikan instrumen lain dengan memperhatikan profil risiko.

Untuk kategori risiko tinggi (high risk), pasar saham bisa menjadi pilihan.

Namun, mengingat anjloknya IHSG pada perdagangan Jumat yang efeknya dinilai bisa terasa hingga beberapa waktu ke depan, Andy menyarankan investor saham untuk super ekstra hati-hati atau bahkan menahan diri sementara waktu.

"Alternatif lain bisa masuk pasar derivatif yang risiko dan modalnya lebih tinggi dan besar lagi," ujar Andy dihubungi terpisah.

Di level risiko moderat, Andy merekomendasikan Obligasi Ritel Negara (SBN) atau reksa dana pendapatan tetap. Sementara untuk level konservatif, pilihannya adalah logam mulia atau reksa dana pasar uang.