NADIKABAR.COM — Sejumlah aliran sungai di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, terus dinormalisasi saat musim kemarau. Proses tersebut dilakukan guna meminimalkan potensi banjir saat musim penghujan tiba.

Camat Bojongsoang Kankan Taufik Barnawan mengatakan, pelaksanaan pengerukan atau normalisasi sungai telah dilakukan sejak awal Agustus 2026. Area pengerukan berada di aliran Sungai Cikeruh dan Sungai Citarum.

"Pengerukan sudah berlangsung hampir 30 hari lebih. Itu sepanjang (sungai Cikeruh dan Citarum) sekitar 1,3 kilometer gitu. Nah, ini sampai hari ini masih murni dari Pak Asep Romy dan dari BBWS," ujar Kankan, kepada awak media, Jumat (4/9/2026).

Area lainnya yang dikeruk adalah aliran Sungai Cikayapu yang dekat dengan perumahan Podomoro. Kata dia, penanganan banjir tersebut dilakukan secara pentaheliks.

"Kemudian kemarin dari di akhir tahun 2025 dari Podomoro juga hampir 1 kilometer lebih itu Sungai Cikayapu ya. Kemudian dari Matahari Land itu di Lengkong juga hampir 700 meter itu dilakukan normalisasi juga," katanya.

Kankan mengungkapkan, upaya lainnya dalam menangani banjir adalah penyediaan lahan seluas 10 hektare. Lahan tersebut nantinya akan digunakan untuk pembangunan beberapa titik danau retensi.

"Kemudian kita juga akan ada pembuatan saluran baru, dan salah satu masyarakatnya atau pengusahanya sudah memberikan hibah tanahnya itu sampai 8 meter kali hampir 1.200 meteran gitu ya," kata Kankan.

"Nah, itu untuk membuat saluran baru juga yang hampir nempel ke tol ya, jadi itu tuh untuk mencegah air yang dari Kota Bandung. Sehingga bisa langsung masuk ke saluran itu, tertahan, tidak langsung masuk ke Tegalluar. Dan itu pun sudah dilakukan, sudah menghibahkan," tambahnya.

Dia menyebutkan BBWS akan menganggarkan penyediaan pintu air duckbill. Penyediaan pintu air tersebut akan dilakukan di beberapa titik aliran sungai di Kecamatan Bojongsoang.

"Semoga itu bisa menangani permasalahan banjir dj Bojongsoang, Baleendah, dan Dayeuhkolot," kata Kankan.

Pihaknya meminta warga untuk tidak henti-hentinya menyuarakan kegelisahan terkait banjir. Dengan begitu, penanganan banjir hingga permasalahan sampah bisa menjadi prioritas pemerintah pusat.

"Jadi percuma warga juga ketika meminta itu, misalkan meminta pengerukan kepada seorang camat, kepada seorang kepala desa, kepada misalkan Pak Bupati, kan itu kewenangannya bukan di titik itu," bebernya.

"Walaupun kita Pak Pak Bupati kan tidak berhenti, walaupun tidak ada anggaran, bagaimana Pak Bupati mengonsep Pentahelix ini kan secara langsung, karena Pak Bupati paham anggaran di pusatnya sedang tidak masuk ke wilayah kita, gitu," lanjutnya.

Kankan mengimbau perusahaan agar dana Corporate Social Responsibility (CSR) dialokasikan untuk hal yang bermanfaat jangka panjang. Menurutnya, perusahaan harus mengurangi alokasi dana CSR untuk acara hiburan yang hanya habis dalam semalam dan tidak bermanfaat.

"Nah, kita arahkan CSR-CSR dari perusahaan itu kita fokuskan bagi saya di wilayah Bojongsoang itu tiga hal: pertama terkait dengan sampah, kedua terkait dengan banjir, dan ketiga terkait dengan macet," tegasnya.