NADIKABAR.COM — Hampir seluruh terumbu karang di perairan dangkal dunia terancam mengalami kerusakan parah hingga kehilangan fungsi ekologisnya pada 2075. Perubahan iklim menjadi ancaman terbesarnya, demikian peringatan Uni Internasional untuk Konservasi Alam (Union for Conservation of Nature/IUCN) pada Kamis.

Dalam survei sistematis pertama terhadap 127 ekosistem terumbu karang di wilayah tropis dan subtropis di seluruh dunia, IUCN menyebut 96% di antaranya masuk kategori terancam kritis, tingkat ancaman tertinggi dalam penilaian lembaga tersebut.

Terumbu karang perairan dangkal merupakan ekosistem karang berwarna-warni yang ditemukan hingga kedalaman sekitar 40 meter. Kawasan ini menjadi habitat bagi berbagai jenis biota laut.

Sejumlah kawasan yang terancam antara lain Great Barrier Reef di Australia, kawasan Segitiga Terumbu Karang yang membentang di Pasifik barat dan Asia Tenggara, termasuk perairan Indonesia, Sistem Terumbu Karang Mesoamerika, serta terumbu karang di Laut Merah.

"Peningkatan suhu laut akibat perubahan iklim menjadi ancaman utama yang paling luas dan terus-menerus menyebabkan kerusakan terumbu karang di seluruh dunia," kata IUCN saat menyampaikan hasil penelitiannya dalam Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP17) di Yerevan, Armenia.

Secara global, terumbu karang perairan dangkal tersebar di wilayah seluas sekitar 188.000 kilometer persegi.

Karang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Saat suhu air laut meningkat terlalu tinggi, karang akan melepaskan alga mikroskopis yang hidup di dalam jaringannya. Padahal, alga tersebut menyediakan sebagian besar nutrisi yang dibutuhkan karang untuk bertahan hidup.