Hilangnya alga ini menyebabkan karang mengalami pemutihan atau coral bleaching. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, karang bisa mati.
Penangkapan ikan berlebihan juga menjadi ancaman besar. Terutama jika terjadi pada ikan kakatua dan kerapu, yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang.
Selain itu, pembangunan kawasan pesisir, pencemaran, aktivitas pariwisata, serta badai yang semakin kuat turut memperparah kerusakan terumbu karang.
Ketika karang keras mati dan menghilang, kawasan yang sebelumnya dipenuhi karang sering kali berubah menjadi hamparan alga, pecahan karang, dan spons laut. Akibatnya, keanekaragaman hayati berkurang karena semakin sedikit spesies yang bisa hidup di kawasan tersebut. Hewan yang terdampak antara lain ikan karang, kerang, penyu, dan hiu.
"Perubahan iklim akan menjadi ancaman yang semakin besar dan serius di masa depan. Ini menempatkan kelangsungan hidup ekosistem terumbu karang pada risiko yang sangat tinggi," kata Mishal Gudka, pemimpin tim ilmiah yang melakukan penilaian terhadap kondisi terumbu karang untuk Daftar Merah Ekosistem IUCN.
Penelitian ini mengacu pada salah satu skenario iklim dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) PBB, yang memperkirakan suhu rata-rata global akan naik sekitar 2,7 derajat Celsius pada 2100 dibandingkan masa sebelum Revolusi Industri.