NADIKABAR.COM β Penelitian terbaru dari Drexel University College of Medicine di Philadelphia menunjukkan bahwa gangguan suara, termasuk perubahan pada tinggi rendahnya nada, volume, atau kejernihan suara, dapat mengindikasikan kemungkinan lebih tinggi seseorang mengalami demensia atau gangguan kognitif.
βKami menemukan hubungan paling kuat dengan demensia pada pasien yang mengalami gangguan suara dan gangguan pendengaran,β kata Robert Sataloff, profesor sekaligus ketua di Drexel University College of Medicine, dikutip laporan New York Post yang siar pada Minggu (4/10) waktu setempat.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Voice itu melibatkan 833.417 peserta berusia 50 tahun ke atas meneliti hubungan antara gangguan suara, gangguan pendengaran, atau keduanya dengan kemungkinan mengalami gangguan kognitif atau demensia, termasuk penyakit Alzheimer.
Penilaian dilakukan mulai satu tahun setelah peserta didiagnosis mengalami gangguan suara dan gangguan pendengaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang mengalami gangguan suara tanpa gangguan pendengaran memiliki kemungkinan 58 persen lebih tinggi mengalami demensia atau gangguan kognitif di kemudian hari. Sementara itu, peserta yang mengalami gangguan suara sekaligus gangguan pendengaran memiliki kemungkinan 104 persen lebih tinggi.
Pada seluruh peserta yang mengalami gangguan suara, baik disertai gangguan pendengaran maupun tidak, terdapat peningkatan kemungkinan sebesar 29 persen untuk mengalami demensia atau gangguan kognitif. Sementara peserta yang hanya mengalami gangguan pendengaran memiliki risiko 27 persen lebih tinggi.
βKami menemukan bahwa mereka yang mengalami gangguan suara tanpa gangguan pendengaran memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan pasien yang hanya mengalami gangguan pendengaran,β kata Sataloff.
Contoh gangguan suara antara lain laringitis, kelumpuhan pita suara, lesi pita suara, serta disfonia spasmodik (distonia laring), menurut Cleveland Clinic.
Terlepas dari kemungkinan hubungan antara gangguan suara dan demensia, para peneliti mencatat bahwa mencari pengobatan untuk gangguan suara juga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan otak.
Gangguan pendengaran dan kesulitan berbicara dapat membuat seseorang enggan bersosialisasi dengan orang lain. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas sosial dapat menstimulasi otak dan berperan dalam membantu mencegah demensia.
Sataloff mengatakan hubungan antara gangguan suara dan gangguan pendengaran dengan gangguan kognitif merupakan hal yang βwajarβ. Menurut dia, orang yang mengalami rasa sakit atau tidak nyaman saat berbicara mungkin lebih jarang berpartisipasi dalam aktivitas sosial atau kegiatan lain yang mendukung fungsi otak.
Meski demikian, terlepas dari temuan penelitian, memiliki gangguan suara tidak selalu berarti seseorang akan mengalami gangguan kognitif di masa depan. Selain itu, gangguan pada suara juga tidak selalu menjadi tanda awal penurunan fungsi otak atau munculnya demensia maupun penyakit Alzheimer.
Penerjemah: Sri Dewi Larasati