Keterkaitan tersebut ditemukan pada kedua jenis kelamin, namun lebih kuat di kalangan remaja laki-laki, terutama terkait kecemasan, menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Child and Adolescent Mental Health. Studi itu mengecualikan remaja yang telah menunjukkan gejala depresi atau kecemasan yang tinggi pada awal penelitian dan memperhitungkan berbagai faktor, termasuk aktivitas fisik, usia, jenis kelamin, serta status sosial dan ekonomi. Tim peneliti menyerukan upaya yang lebih besar untuk menjadikan makanan bergizi lebih mudah diakses dan terjangkau serta mengurangi paparan kaum muda terhadap minuman berpemanis.