Selain inflasi, indikator positif juga terlihat dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur. Setelah berada di zona kontraksi dengan angka sekitar 49 pada bulan sebelumnya, PMI manufaktur pada akhir September 2026 naik menjadi 52.
Menurutnya, kenaikan PMI tersebut menunjukkan industri mulai meningkatkan pembelian bahan dan kebutuhan produksi sebagai persiapan untuk melakukan ekspansi.
"Kita kalau bulan lalu itu ada di zona kontraktif sekitar 49, jadi kalau di bawah 50 itu adalah kontraksi. Kalau angka yang baru rilis untuk akhir bulan September kemarin adalah angka 52," terang Suahasil.
Selanjutnya, neraca perdagangan yang mencatat surplus sebesar US$ 3,5 miliar. Suahasil menilai sejumlah indikator tersebut menunjukkan fundamental dan ketahanan ekonomi Indonesia masih terjaga.
"Ini adalah indikasi-indikasi yang baik. Fundamental ekonomi kita, resiliensi perekonomian kita itu terlihat, gerak ekonominya terlihat dalam angka-angka statistik," pungkas Suahasil.