Tanpa dinding penyekat, ruang kelas darurat berukuran 6 x 4 meter persegi itu hanya mengandalkan papan tulis putih yang sudah rusak sebagai pembatas antarkelas. Tidak jarang kegiatan belajar harus dihentikan sebelum waktunya ketika hujan mulai turun.

Sementara itu, siswa kelas 1 hingga kelas 4 masih menggunakan ruang kelas yang kondisinya tidak layak dan rawan ambruk. Dinding bangunan dipenuhi retakan, mulai dari kerusakan kecil hingga retakan besar yang terlihat di hampir seluruh ruangan.

Bagian atap juga mengalami kerusakan. Sejumlah genting pecah atau bergeser dari tempatnya sehingga menyisakan lubang tanpa langit-langit. Ketika cuaca mulai mendung, pihak sekolah segera menghentikan kegiatan belajar untuk menghindari risiko bagi siswa.