Para pelaku industri juga terang-terangan menuding platform streaming global bermodal raksasa, seperti Netflix dan Disney+ sebagai biang kerok rusaknya standar biaya produksi.

Kehadiran platform asing ini dinilai mengebiri kemampuan perusahaan lokal untuk mempertahankan hak kekayaan intelektual (IP) mereka.

Penderitaan sineas disebut makin lengkap dengan gempuran tren kecerdasan buatan (AI) serta menjamurnya drama format pendek.

Situasi itu ditekankan berdampak langsung pada lapangan pekerjaan. Presiden Asosiasi Produser Drama Korea Kim Jong-chang menyoroti hilangnya kesempatan talenta muda untuk memupuk portofolio.

"Tidak ada lapangan pekerjaan. Maraknya konten format pendek dan AI semakin memperburuk masalah ini. Kami sadar harus beradaptasi dengan perubahan tren, tapi kenyataan yang kami hadapi saat ini benar-benar sangat sulit," keluhnya.

Asosiasi bongkar kondisi industri drama Korea yang sesungguhnya terpuruk di dalam negeri, meski sukses secara global. (Studio Dragon)

Jeritan serupa dilontarkan Park Hae-young selaku penulis naskah My Mister sekaligus ketua komite hak cipta di Asosiasi Penulis TV & Radio Korea. Ia mencontohkan efek berantainya pada para kru di level bawah.

"Biasanya, ketika saya merampungkan satu proyek, akan ada peluang baru yang bisa saya teruskan kepada para asisten penulis yang bekerja di bawah saya," tuturnya.