"Tapi sekarang para asisten penulis itu tidak punya pekerjaan. Kita tidak boleh membiarkan industri ini menjadi terus bergantung dan dikendalikan oleh modal asing raksasa," ungkap Park.
Ironisnya, jeritan pekerja kreatif ini ditanggapi dingin oleh pemerintah. Rancangan anggaran Kementerian Kebudayaan untuk sektor ini justru disunat dari 91,8 miliar won menjadi 87,3 miliar won pada 2027.
Padahal pada 2025, ekspor Korean Wave berhasil menembus US$18,98 miliar, dengan US$1,25 miliar di antaranya murni hasil keringat industri penyiaran dan video.
Manuver tersebut sangat kontras dengan pemerintah Jepang yang agresif meminta anggaran lima kali lipat demi memompa ekspor konten mereka hingga US$1,6 miliar pada 2033.
Menghadapi jalan buntu, para pelaku industri mendesak pemerintah Korea Selatan segera merancang kebijakan taktis untuk mengembalikan ritme produksi ke era sebelum dikuasai platform streaming asing.
Mereka menuntut pembentukan dana investasi jangka menengah dan panjang senilai 1 triliun won yang dialokasikan khusus untuk produksi lokal.
"Dari kacamata ekosistem industri, jika ada 100 drama yang diproduksi, 99 drama lainnya jauh lebih penting daripada satu drama yang meledak di pasaran," pungkas Song menyoroti mendesaknya pemulihan volume produksi.
"Sebab dari 99 produksi itulah para kreator bisa tumbuh dan berkembang."