Salah satu alasan seseorang sangat sulit beranjak dari kasur adalah waktu tidur yang tidak cukup.

Jika seseorang tidur terlalu sedikit, tubuh masih memiliki tekanan tidur yang tinggi ketika alarm berbunyi. Akibatnya, rasa mengantuk setelah bangun dapat menjadi lebih kuat.

Penelitian menunjukkan bahwa sleep inertia dapat menjadi lebih berat setelah seseorang mengalami kurang tidur. Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi oleh waktu seseorang terbangun dan fase tidur ketika alarm berbunyi.

Karena itu, kalau setiap pagi terasa seperti sedang bernegosiasi dengan kasur, hal pertama yang perlu dilihat bukan hanya alarmnya, tetapi juga apakah waktu tidur malam sudah mencukupi.

Tubuh memiliki sistem pengatur waktu internal yang dikenal sebagai ritme sirkadian. Sistem ini membantu mengatur kapan tubuh lebih siap tidur dan kapan lebih siap terjaga.

Ketika seseorang memiliki jadwal tidur yang tidak teratur, sering tidur larut malam, bekerja pada malam hari atau harus bangun pada waktu yang tidak sesuai dengan kebiasaan tubuh, proses bangun tidur bisa terasa lebih berat.

Riset mengenai sleep inertia menunjukkan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan interaksi antara tekanan tidur dan ritme sirkadian.

Karena itu, tidur pada pukul yang sama setiap malam dan bangun pada waktu yang relatif konsisten dapat membantu tubuh memiliki pola yang lebih teratur.

Ada pula alasan yang jauh lebih sederhana: kasur memang nyaman.

Setelah tidur berjam-jam, tubuh berada dalam kondisi rileks. Ketika tidak ada tuntutan yang mendesak untuk segera bangun, otak dapat memilih aktivitas yang membutuhkan energi paling sedikit, yaitu tetap berbaring.

Ditambah lagi, ponsel yang berada di samping bantal membuat seseorang memiliki "aktivitas" tanpa harus meninggalkan kasur. Cukup membuka media sosial atau menonton video pendek, tiba-tiba 20 menit sudah berlalu.

Masalahnya, kebiasaan menunda bangun tersebut dapat membuat seseorang semakin sulit memulai aktivitas pagi, terutama jika waktu bangun sudah mepet dengan jadwal kerja atau sekolah.