NADIKABAR.COM — Alarm sudah berbunyi. Mata sebenarnya sudah terbuka, tetapi tubuh rasanya belum mau diajak bekerja sama.

Alih-alih langsung bangun, seseorang justru menarik selimut lagi, mengecek ponsel, atau sekadar berbaring selama beberapa menit sambil berpikir, "Nanti saja bangunnya."

Kondisi seperti ini cukup umum. Rasa berat untuk meninggalkan kasur setelah bangun tidur bisa terjadi karena tubuh dan otak memang membutuhkan waktu untuk beralih dari kondisi tidur menuju kondisi terjaga sepenuhnya.

Dalam ilmu tidur, kondisi tersebut dikenal sebagai sleep inertia.

Sleep inertia merupakan kondisi sementara ketika seseorang baru terbangun tetapi masih merasa mengantuk, kurang waspada, sulit berpikir jernih atau memiliki keinginan untuk kembali tidur.

Penelitian yang dipublikasikan di Sleep Medicine Reviews menjelaskan bahwa sleep inertia merupakan fase transisi antara tidur dan terjaga. Pada periode ini, kemampuan berpikir dan kewaspadaan dapat menurun sementara.

Jadi, ketika seseorang sudah membuka mata tetapi masih merasa "belum nyawa", sebenarnya otak belum sepenuhnya mencapai tingkat kewaspadaan seperti ketika seseorang sudah beraktivitas.

Kondisi ini biasanya akan berkurang seiring berjalannya waktu setelah bangun.

Rasa berat setelah bangun bukan berarti seseorang akan terus merasa mengantuk sepanjang pagi.

Tinjauan penelitian menunjukkan bahwa dampak sleep inertia biasanya paling terasa sesaat setelah bangun dan kemudian berangsur-angsur berkurang. Pada banyak orang, kondisi tersebut dapat berlangsung sekitar 15 hingga 60 menit, meskipun durasinya dapat berbeda-beda.

Itulah sebabnya seseorang mungkin merasa sangat berat untuk bangun pada menit pertama, tetapi 20 atau 30 menit kemudian sudah jauh lebih segar setelah mandi, terkena cahaya pagi dan mulai bergerak.

Kurang tidur bisa membuatnya lebih berat