Faktor yang paling banyak disebut adalah keterbatasan lapangan kerja sebesar 56 persen, tingginya persaingan kerja 41,3 persen, serta hambatan batasan usia.

Ekonom Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati menilai temuan tersebut sejalan dengan tantangan ketenagakerjaan yang perlu mendapat perhatian, khususnya bagi kelompok usia muda.

"Jadi walaupun secara rata-rata pengangguran turun, tapi untuk usia muda naik dari 16 ke 17," kata Ninasapti.

Ia juga menyoroti ketidaksesuaian antara kebutuhan dunia kerja dan keterampilan pencari kerja (mismatch), serta persaingan dan perkembangan teknologi yang semakin memengaruhi peluang kerja.

"Hambatannya itu ada di teknologi, ada di persaingan. Itu menunjukkan beratnya merebut lapangan kerja," ujar dia.

Di tengah kondisi tersebut, Ninasapti menyambut positif keinginan pemuda untuk membangun usaha sendiri. Namun, dia mengingatkan pengembangan usaha membutuhkan dukungan permodalan.

"Saya senang melihat hasilnya bahwa ada pemuda ingin buka usaha. Tapi usaha pun ada masalah. Usaha pun harus punya modal, jadi harus ada bantuan," ujar dia.