Tantangan lain datang dari perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Survei mencatat 64,4 persen responden khawatir pekerjaan mereka pada masa mendatang tergantikan oleh AI. Namun, baru 7,1 persen yang menilai teknologi tersebut sebagai hambatan dalam mencari pekerjaan saat ini.
Dari sisi kondisi ekonomi, sebanyak 60 persen responden merasa pendapatannya belum mencukupi kebutuhan sehari-hari, sementara 59 persen di antaranya masuk kategori rentan secara finansial.
Selain mencari peluang usaha di dalam negeri, generasi muda juga menunjukkan minat untuk mengembangkan karier di luar negeri. Sebanyak 75,2 persen responden menyatakan ingin bekerja di luar negeri, terutama untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik dan kesempatan karier internasional.
Keinginan tersebut tidak serta-merta menunjukkan berkurangnya keterikatan terhadap Indonesia. Sebanyak 77,8 persen pemuda yang ingin bekerja di luar negeri menyatakan berniat kembali ke Tanah Air.
Perwakilan pemuda Firdarainy Nurul Izzah mengatakan kesiapan menghadapi tantangan ketenagakerjaan perlu dibangun bersama oleh individu dan ekosistem dunia kerja.
"Yang penting adalah kita sebagai anak muda siap secara individu, dan sistem yang dibangun dunia kerja dan industri juga siap menyediakan kesempatan yang seadil-adilnya untuk kami semua," ujar dia.
Survei KedaiKOPI dilakukan secara daring pada 23-29 September 2026 terhadap 1.213 warga negara Indonesia berusia 17-45 tahun dari 36 provinsi. Data dibobotkan menggunakan metode iterative proportional fitting berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, agama, wilayah, dan provinsi.