NADIKABAR.COM — Minat generasi muda untuk berwirausaha cukup tinggi di tengah tantangan mencari pekerjaan, persaingan tenaga kerja, dan perubahan teknologi, menurut hasil lembaga survei KedaiKOPI.
Kepala Riset KedaiKOPI Ashma Nur Afifah di Jakarta, Jumat mengatakan sebanyak 32,8 persen responden menjadikan kepemilikan usaha sendiri sebagai pekerjaan impian.
Kondisi tantangan persaingan kerja, menurut survei itu, dinilai menjadi peluang untuk memperkuat kewirausahaan dengan dukungan akses permodalan dan ekosistem usaha yang memadai.
Pilihan tersebut mencerminkan keinginan generasi muda untuk bekerja secara mandiri sekaligus membuka kesempatan kerja bagi orang lain.
"Banyak dari mereka sekira 32,8 persen bermimpi untuk memiliki usaha sendiri. Jadi, bekerja untuk diri mereka sendiri, bahkan memberi pekerjaan untuk orang lain," kata Ashma dalam diskusi peluncuran survei bertajuk "Menakar Arah Pemuda: Tantangan Ekonomi, Pekerjaan, dan Preferensi Politik Menuju 2029."
Selain itu, survei mencatat 43,9 persen responden menyatakan ingin membuka usaha sendiri. Minat terhadap profesi digital juga mulai terlihat, antara lain kreator konten sebesar 3,9 persen dan analis data 2,4 persen. Sementara itu, minat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tercatat 5,7 persen.
Besarnya minat berwirausaha muncul di tengah persepsi kesulitan memperoleh pekerjaan. Sebanyak 74,7 persen responden menilai mencari pekerjaan saat ini masih sulit.
Faktor yang paling banyak disebut adalah keterbatasan lapangan kerja sebesar 56 persen, tingginya persaingan kerja 41,3 persen, serta hambatan batasan usia.
Ekonom Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati menilai temuan tersebut sejalan dengan tantangan ketenagakerjaan yang perlu mendapat perhatian, khususnya bagi kelompok usia muda.
"Jadi walaupun secara rata-rata pengangguran turun, tapi untuk usia muda naik dari 16 ke 17," kata Ninasapti.
Ia juga menyoroti ketidaksesuaian antara kebutuhan dunia kerja dan keterampilan pencari kerja (mismatch), serta persaingan dan perkembangan teknologi yang semakin memengaruhi peluang kerja.
"Hambatannya itu ada di teknologi, ada di persaingan. Itu menunjukkan beratnya merebut lapangan kerja," ujar dia.
Di tengah kondisi tersebut, Ninasapti menyambut positif keinginan pemuda untuk membangun usaha sendiri. Namun, dia mengingatkan pengembangan usaha membutuhkan dukungan permodalan.
"Saya senang melihat hasilnya bahwa ada pemuda ingin buka usaha. Tapi usaha pun ada masalah. Usaha pun harus punya modal, jadi harus ada bantuan," ujar dia.
Tantangan lain datang dari perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Survei mencatat 64,4 persen responden khawatir pekerjaan mereka pada masa mendatang tergantikan oleh AI. Namun, baru 7,1 persen yang menilai teknologi tersebut sebagai hambatan dalam mencari pekerjaan saat ini.
Dari sisi kondisi ekonomi, sebanyak 60 persen responden merasa pendapatannya belum mencukupi kebutuhan sehari-hari, sementara 59 persen di antaranya masuk kategori rentan secara finansial.
Selain mencari peluang usaha di dalam negeri, generasi muda juga menunjukkan minat untuk mengembangkan karier di luar negeri. Sebanyak 75,2 persen responden menyatakan ingin bekerja di luar negeri, terutama untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik dan kesempatan karier internasional.
Keinginan tersebut tidak serta-merta menunjukkan berkurangnya keterikatan terhadap Indonesia. Sebanyak 77,8 persen pemuda yang ingin bekerja di luar negeri menyatakan berniat kembali ke Tanah Air.
Perwakilan pemuda Firdarainy Nurul Izzah mengatakan kesiapan menghadapi tantangan ketenagakerjaan perlu dibangun bersama oleh individu dan ekosistem dunia kerja.
"Yang penting adalah kita sebagai anak muda siap secara individu, dan sistem yang dibangun dunia kerja dan industri juga siap menyediakan kesempatan yang seadil-adilnya untuk kami semua," ujar dia.
Survei KedaiKOPI dilakukan secara daring pada 23-29 September 2026 terhadap 1.213 warga negara Indonesia berusia 17-45 tahun dari 36 provinsi. Data dibobotkan menggunakan metode iterative proportional fitting berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, agama, wilayah, dan provinsi.