"Hampir setengah dari pekerja yang dipekerjakan untuk posisi kepala AI memiliki gelar pascasarjana, dan 20% memiliki gelar doktor," ungkapnya.

Kantenga mengakui bahwa besarnya gaji di bidang AI meningkatkan ketidaksetaraan upah. Pekerja lain yang tidak bisa masuk ke sektor teknologi dan AI, akan memiliki gaji yang jauh lebih rendah.

"Hal itu akan memperlebar kesenjangan upah," imbuhnya.

Bagi mahasiswa dan pekerja muda yang ingin bekerja di bidang AI, penting untuk memiliki keterampilan ilmu komputer. Selain itu, perkuat keterampilan dengan pengalaman bekerja di bidang data.

"Memiliki latar belakang teoretis dalam rekayasa data saja tidak cukup - peran AI ini akan mengharuskan Anda untuk mengetahui cara mempersiapkan dan menggunakan data secara efektif," paparnya.

Jika pengalaman masih terbatas, maka mulailah untuk mengerjakan proyek sampingan bidang AI untuk membangun portofolio. Ini akan menjadi poin plus untuk menunjukkan sebuah keterampilan.