NADIKABAR.COM — Sutradara "Godzilla Minus Zero", Takashi Yamazaki, mengatakan bagian terpenting dalam membuat sekuel film yang sukses adalah mengesampingkan keinginan mengungguli pendahulunya, "Godzilla Minus One", yang telah memenangkan Academy Award untuk Efek Visual Terbaik.
"Saya masuk dengan keyakinan bahwa jika saya menjadi sadar akan penghargaan itu, saya akan kalah," kata Yamazaki dalam siaran pers tim produksi "Godzilla Minus Zero" di Jakarta, Selasa.
Yamazaki menyatakan bahwa ia merasa lega setelah memutuskan untuk fokus pada pembuatan film baru yang menghibur, menciptakan sesuatu yang menyenangkan, dan memiliki pesan yang bermakna.
"Pendekatan itu sendiri identik dengan film sebelumnya. Bagaimana kami memeras otak atas proses efek visual menentukan kualitas, jadi kami melakukan penelitian berulang kali untuk merekam adegan yang biasanya tidak dapat ditangkap dengan memanfaatkan ide dan trik secara maksimal," kata Yamazaki.
Sutradara yang lahir di Kota Matsumoto di Prefektur Nagano, Jepang pada 1964 itu adalah pembuat film dan supervisor efek visual (VFX) terkemuka di Jepang.
Ia menjadi sutradara pertama sejak Stanley Kubrick yang memenangkan Academy Award untuk Efek Visual Terbaik untuk "Godzilla Minus One" (2023). Bergabung dengan rumah produksi VFX Jepang Shirogumi Inc. pada 1986, Yamazaki memulai debut sebagai sutradara dengan "Juvenile" (2000). Karya lainnya termasuk "Always: Sunset On Third Street" (2005), "The Eternal Zero" (2013), dan "Stand By Me Doraemon" (2014).
Yamazaki mengatakan pertempuran antara Godzilla dan monster musuh dalam film kali ini menjadi perkelahian fisik yang sengit yang belum pernah terjadi sebelumnya berkat teknologi digital.
Sedangkan untuk tim suara, mengenai suara pesawat tempur, mereka merekam suara mesin benaran dari pesawat yang terbang.
Selain itu, ia optimistis kemampuan pemutaran "Godzilla Minus Zero" dalam ruang audio Dolby Atmos dan format layar IMAX esok akan memberikan pengalaman yang signifikan, memungkinkan penonton merasakan tingkat intensitas yang lebih tinggi, terutama dengan adanya peningkatan tim VFX dari sebelumnya 35 anggota menjadi lebih dari 50 orang untuk film itu.
Sebagai premis dasar, tim merancang fitur utama untuk memberikan pengalaman visual terbaik dalam rasio aspek CinemaScope tradisional (2.35:1).
Filosofi intinya tetap bahwa CinemaScope sebagai master utama. Rasio aspek IMAX yang diperluas (1.90:1 dan 1.43:1) diperlakukan sebagai ekstensi dari pembangunan dunia.
Namun, menemukan komposisi yang berfungsi mulus di CinemaScope dan IMAX terbukti sangat sulit. Daripada sekadar memperluas gambar secara vertikal, Sutradara Yamazaki menggambar ulang setiap papan cerita (storyboard) yang sudah selesai untuk menghitung ulang komposisi bingkai dan skala aksi saat diperluas, memasuki syuting utama hanya setelah persiapan yang matang.
"Semua orang sangat menyukai 'Godzilla Minus One' sehingga saya merasa kami tidak boleh mengecewakan mereka dalam sekuelnya, jadi saya mendekatinya dengan banyak usaha, meski begitu, gaya dasar saya sendiri mungkin tidak banyak berubah. Untungnya, anggaran kami sedikit meningkat (tertawa), jadi saya menghilangkan batasan pada berbagai ekspresi yang sebelumnya saya tahan," kata Yamazaki.
Film "Godzilla Minus Zero" menjadi proyek film Jepang pertama yang digarap khusus menggunakan format "Filmed for IMAX". Penonton di Indonesia dapat menyaksikan kelanjutan kisah "Godzilla Minus One" ini di bioskop reguler maupun studio IMAX terdekat mulai 4 November.