Sementara itu, jurnalis Spanyol Roberto Gmez sedang setengah tertidur di dalam kereta cepat Renfe yang sebelumnya berhenti lebih dari 25 km dari lokasi kereta yang ditumpangi Binier.

Menurut Gmez, penghentian itu hanya berlangsung singkat. Beberapa menit kemudian kereta kembali bergerak, dan tak lama setelah itu tabrakan terjadi.

Ia tidak mengetahui bahwa pada pukul 08.36 keretanya telah diperintahkan untuk melanjutkan perjalanan. Sekitar 17 menit kemudian, sesuatu yang disebut Menteri Transportasi Spanyol sebagai kejadian yang "benar-benar sulit dipercaya" pun terjadi.

"Dampaknya sangat mengerikan," kata Gmez kepada radio Onda Cero.

"Bisa dibayangkan, gerbongnya hancur total. Semua koper berserakan di dalam gerbong yang rusak."

Gmez hanya mengalami luka ringan. Namun, ia menceritakan bahwa seorang penumpang lain terjatuh menimpanya dan mengalami luka sobek cukup dalam di kepala.

"Kami bisa membantu orang-orang yang mengalami benturan parah di bagian dada dan tulang rusuk," ujarnya.

Rafael Barcelo berada di salah satu gerbong yang mengalami kerusakan paling parah.

Memar di dahinya menjadi tanda bahwa ia termasuk salah satu penyintas yang beruntung. Saat tabrakan terjadi, ia sedang menikmati secangkir kopi dan mengaku "merasakan benturan yang sangat keras".

"Kami semua terlempar ke udara," katanya kepada kantor berita Reuters di lokasi kecelakaan.

"Saya relatif baik-baik saja, tetapi kondisi teman saya jauh lebih buruk."

"Saya berada di gerbong nomor tujuh, yang menjadi gerbong dengan korban terbanyak dan yang mengalami kerusakan paling parah. Setidaknya saya menghitung ada delapan korban di gerbong itu," ujarnya, masih tampak terguncang oleh peristiwa tersebut.

ReutersRafael Barcelo: "Saya menghitung ada delapan korban di gerbong itu".

Bahkan di gerbong-gerbong yang letaknya paling jauh dari titik benturan di kereta Renfe, "semuanya hancur total. Kursi-kursi terlepas dari tempatnya, dan sebagian besar penumpang yang duduk menghadap ke arah laju kereta terlempar ke udara," kata Salvador Arriza.

"Itu benar-benar sangat dahsyat," ujarnya, seraya menggambarkan bagaimana beberapa orang "terjebak di antara kursi-kursi".

Setelah berhasil keluar dari gerbong, ia melihat langsung betapa parahnya situasi di lokasi kejadian.

"Yang paling menarik perhatian saya adalah di salah satu gerbong terdapat sepotong rel kereta yang menembus atap gerbong. Saya kira itu mungkin membantu menghentikan atau setidaknya mengurangi laju dan momentum kereta," katanya.

Sebastin Herrero berada di kereta yang ditabrak dari belakang. Ia mengatakan benturan yang terjadi begitu keras hingga melemparkannya ke kursi di depannya.

"Benturannya sangat mengerikan, sangat mengerikan," katanya.

"Setelah kami terjatuh, banyak orang mengalami hidung patah, lengan patah... Kami mulai melihat asap di mana-mana."

Herrero menggambarkan suasana di dalam gerbong yang penuh kepanikan sesaat setelah tabrakan, ketika para penumpang berusaha memahami apa yang baru saja terjadi dan membantu mereka yang terluka.

Setelah benturan awal terjadi, para penumpang di gerbong yang ditumpangi Binier sempat memperdebatkan apakah aman untuk keluar dari kereta. Kekhawatiran muncul karena kabel-kabel listrik berserakan di sekitar jalur.

Sebagian penumpang khawatir akan risiko tabrakan susulan dari kereta lain dan akhirnya memutuskan untuk keluar.

"Kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai kami melangkah keluar dari kereta. Di situlah kami melihat bukti dari apa yang telah terjadi.

"Kami melihat kereta lain berada di belakang kereta kami dan melihat kereta kami terguling sepenuhnya, sementara bagian belakangnya dipenuhi puing-puing," katanya kepada BBC.

"Saat saya keluar dari kereta, saya benar-benar syok, benar-benar tidak percaya. Ada orang-orang yang berada dalam bahaya, sangat sulit melihatnya. Ada jenazah, ada anggota tubuh yang terputus.

"Saya tidak tahu apakah saya akan pernah bisa pulih dari pengalaman itu."

Namun, katanya, adrenalin segera mengambil alih, dan mereka yang tidak mengalami cedera langsung berupaya membantu para korban.

Di antara mereka adalah ayahnya, yang menurut Binier "berhasil mengangkat seorang gadis ke tempat yang aman meski pinggulnya patah".

Tak lama kemudian, warga setempat mulai berdatangan, disusul oleh petugas kepolisian dan layanan ambulans dari Guardia Civil.

"Saya benar-benar termasuk orang yang paling beruntung. Saya merasa sangat beruntung, sementara saya melihat orang-orang lain yang tidak seberuntung saya, dan saya melihat semuanya dari jarak sangat dekat. Terkadang Anda hanya bertanya pada diri sendiri, 'Mengapa saya?'," ujarnya.