NADIKABAR.COM — Di tengah keberagaman suku dan agama yang menghiasi Kabupaten Aceh Tenggara, dentuman ritmis taganing —perangkat gendang bernada dalam musik Gondang Sabangunan— bukan sekadar pengiring prosesi adat Batak Toba. Lebih dari itu, instrumen musik tradisional ini hadir sebagai simbol perekat sosial sekaligus media pemersatu di bumi Tanah Alas.

​Hasil kajian mendalam penulis mengungkapkan bahwa taganing memiliki peran strategis sebagai teks budaya yang mengokohkan harmonisasi kehidupan masyarakat Aceh Tenggara yang majemuk (melting pot).

​Keberadaan etnis Batak Toba di Aceh Tenggara bermula sejak era kolonial Belanda (1909–1914), bertepatan dengan pembangunan akses jalan dan jembatan dari Sidikalang menuju Tanah Alas. Kesuburan tanah di wilayah ini mendorong para pendatang untuk bermukim dan membuka lahan pertanian, khususnya di Kecamatan Lawe Sigala-gala dan Babussalam.