NADIKABAR.COM — Biasanya, kecerdasan buatan atau AI kerap dikaitkan secara negatif dengan kebiasaan belajar siswa. AI biasanya dianggap hanya dimanfaatkan untuk mendapatkan jawaban tugas secara instan.

Namun, tidak demikian dengan penggunaan AI yang ada di Hong Kong ini. Education University of Hong Kong (EdUHK) membuat AI yang kemudian berhasil meningkatkan performa para siswa lokal. Klaim keberhasilan tersebut disimpulkan berdasarkan hasil awal riset yang dilakukan terhadap siswa-siswa di sana.

Platform AI tersebut dinamakan EASE dan berfokus pada pengajaran matematika. Dengan aplikasi ini, siswa bisa mendapatkan asesmen yang bersifat individu dan identifikasi kebutuhan belajar mereka masing-masing.

Ada banyak layanan yang bersifat spesifik dalam aplikasi AI tersebut, misalnya saran alur belajar yang sifatnya dipersonalisasi, real time feedback, penilaian otomatis, analisis eror, dan laporan belajar. Tidak hanya membantu siswa, EASE juga membantu guru dalam memberikan keputusan mengajar.

Dikutip dari China Daily, Kepala Departemen Kurikulum dan Pengajaran EdUHK, Yan Zi mengatakan, EASE diposisikan sebagai asisten untuk siswa. Nilai utamanya tidak hanya mendorong pembelajaran yang mandiri, tetapi juga menumbuhkan kebiasaan untuk terus belajar dan mengoreksi kesalahan. EASE dikembangkan pada 2024 oleh sebuah tim riset yang dipimpin oleh Yan Zi.

Sejak Juni 2025, ada 2.200 siswa sekolah dasar dan menengah yang berpartisipasi dalam riset terkait platform bernama EASE ini. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh EdUHK, pengguna EASE memperlihatkan peningkatan dalam kebiasaan belajar dan hasil akademik.

Dalam percobaan berbasis focus group yang dilakukan pada paruh awal 2026, ada peningkatan dalam hal pengumpulan PR sebesar 70% yang dilakukan oleh pengguna rutin aplikasi ini. Sementara, dalam hal kebiasaan belajar, pengguna rutin akan secara sukarela dapat menyelesaikan sekitar 456 latihan selama periode percobaan riset. Adapun 43% dari pengguna rutin juga secara proaktif mau memperbaiki kesalahan dalam belajar.

Ketika awal menggunakan platform ini, pengguna yang diteliti memperlihatkan tingkat jawaban benar hanya 50-54%. Namun, setelah 12 minggu menggunakan EASE, pengguna-pengguna tersebut mampu mengerjakan soal matematika dengan tingkat akurasi 72% untuk tugas-tugas di luar sekolah dan 82% untuk tugas-tugas yang diberikan oleh guru di sekolah.

Selain memberikan dukungan terpersonalisasi bagi siswa, platform AI ini juga memberikan data kepada guru analisis tentang performa belajar siswa. EASE tidak hanya memberikan data statistik tradisional, tetapi juga menunjukkan data progres kelas secara keseluruhan maupun siswa secara individu. Sehingga, guru bisa membuat keputusan-keputusan mengajar yang tepat.

"Yang lebih penting, melalui desain yang berlandaskan teori pendidikan, platform ini mendorong pembelajaran mandiri dengan memosisikan AI sebagai asisten pendukung, bukan sebagai pengganti usaha siswa itu sendiri," ungkap Prof Yan Zi, dikutip dari laman kampus.

"Dengan memperbaiki kesalahan saat berlatih, siswa memperdalam pemahaman mereka. Peningkatan skor hanyalah hasil sampingan, nilai yang lebih hakiki terletak pada pembentukan kebiasaan belajar berkelanjutan dan perbaikan kesalahan," lanjutnya.