NADIKABAR.COM — Ada sebuah paradoks dalam ekonomi digital. Teknologi semakin mudah diperoleh, tetapi kemampuan untuk menggunakannya secara produktif tidak otomatis ikut meningkat. Sebuah perusahaan dapat menggunakan kecerdasan buatan paling canggih. Namun, jika orang-orang di dalamnya tidak tahu bagaimana teknologi itu mengubah cara bekerja, teknologi tersebut menjadi tidak banyak berarti.
Persoalan ini menjadi penting ketika kita berbicara tentang jebakan pendapatan menengah. Pada tahap awal pembangunan, pertumbuhan ekonomi relatif mudah didorong dengan memanfaatkan sumber daya alam dan tenaga kerja yang murah. Masalah muncul ketika upah mulai meningkat. Keunggulan biaya produksi rendah perlahan hilang, sementara kemampuan menghasilkan barang dan jasa dengan nilai tambah tinggi belum cukup kuat.
Di sinilah produktivitas menjadi penting. Sebuah negara tidak dapat terus-menerus tumbuh dengan cara menggunakan lebih banyak tenaga kerja. Pada suatu titik, pertumbuhan harus datang dari kemampuan menghasilkan lebih banyak dengan sumber daya yang sama. Dengan kata lain, pertumbuhan harus semakin bertumpu pada produktivitas dan inovasi.
Transformasi digital menawarkan peluang untuk itu. Teknologi dapat membuat perusahaan bekerja lebih cepat, menekan biaya, memperluas pasar, dan menghasilkan produk baru. Kecerdasan buatan bahkan mulai mengubah cara manusia bekerja. Tetapi ada satu hal yang sering dilupakan, yaitu teknologi tidak bekerja sendiri.
Talenta digital berada di tengah perubahan tersebut. Jika kecerdasan buatan mampu menulis kode, membuat gambar, dan menganalisis data, maka nilai manusia tidak lagi terutama terletak pada kemampuannya melakukan pekerjaan rutin. Nilai tersebut bergeser pada kemampuan menentukan masalah yang penting, mengajukan pertanyaan yang tepat, dan mengambil keputusan.