Talenta digital masa depan bukan sekadar orang yang mampu menggunakan teknologi. Talenta adalah orang yang mampu membuat teknologi bekerja untuk menghasilkan nilai. Ini perbedaan yang penting. Sebab, negara yang hanya memiliki banyak pengguna teknologi akan menjadi pasar. Negara yang memiliki banyak pencipta nilai dari teknologi akan menjadi pemain.

Hubungan ini membawa kita kembali kepada jebakan pendapatan menengah. Negara dapat tumbuh dengan menjual tenaga kerja murah. Tetapi ketika upah meningkat, strategi tersebut semakin sulit dipertahankan. Jika tidak ada peningkatan produktivitas, perusahaan akan menghadapi pilihan yang tidak mudah. Opsinya hanya menaikkan harga, mengurangi margin, atau memindahkan produksi ke tempat yang lebih murah.

Teknologi dapat membantu mengatasi persoalan tersebut. Dengan teknologi, perusahaan dapat menghasilkan lebih banyak tanpa menambah input dalam jumlah yang sama. Tetapi sekali lagi, teknologi hanya memberikan peluang. Agar peluang itu menjadi produktivitas, perusahaan membutuhkan manusia yang mampu mengadopsi, mengintegrasikan, dan mengembangkan teknologi.

Di sinilah hubungan antara talenta digital dan jebakan pendapatan menengah menjadi jelas. Talenta mendorong transformasi digital. Transformasi digital meningkatkan produktivitas. Produktivitas memungkinkan perusahaan membayar upah lebih tinggi tanpa kehilangan daya saing. Inovasi kemudian mendorong lahirnya produk dan jasa dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Perubahan itu bukan sekadar perubahan teknologi. Ini adalah perubahan struktur ekonomi. Dari menjual komoditas menuju mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Dari menjadi konsumen teknologi menuju menjadi pencipta solusi.