NADIKABAR.COM — Sejumlah pemotor terlihat menerobos area taman di bawah Flyover Pesing, Jakarta Barat, untuk memutar balik. Warga sekitar mengaku khawatir kebiasaan tersebut dapat memicu kecelakaan.
Warga sekitar, Subandi (56), mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama. Menurutnya, kebiasaan pemotor menggunakan taman sebagai jalur putar balik bermula setelah lokasi putaran balik yang sebelumnya digunakan warga ditutup oleh Dinas Perhubungan.
"Sudah lumayan lama. Pokoknya semenjak puteran itu ditutup sama Dishub. Kalau jam-jam ramai, terutama pagi sama sore, memang sering kelihatan motor masuk ke area taman itu untuk putar balik," kata Subandi saat ditemui di sekitar Flyover Pesing, Sabtu (26/9/2026).
Subandi mengatakan pemotor umumnya datang dari arah Grogol dan hendak kembali menuju arah kawasan sekitar Pluit. Jika mengikuti jalur utama, pengendara harus melaju lebih jauh untuk mencari lokasi putar balik.
"Biasanya yang dari arah sana, Grogol, mau balik arah ke gang situ atau Pluit. Kalau lewat jalur utama, mereka harus cari putaran yang ke depan sana. Jadi mungkin karena mau cepat, akhirnya lewat kolong taman," ujarnya.
Menurut Subandi, sebenarnya terdapat lokasi putar balik lain yang tidak terlalu jauh dari lokasi tersebut. Namun, sebagian pengendara memilih menerobos taman karena dianggap lebih cepat dan praktis.
"Sebetulnya puteran balik ada di depan sana, dekat juga padahal. Cuma ya begitu, orang mah kalau ada yang lebih dekat main terabas aja," ungkapnya.
Kebiasaan itu, lanjut Subandi, membuat kondisi tanaman di area taman menjadi rusak. Bahkan, di sejumlah bagian sudah tidak terlihat tanaman karena kerap dilintasi sepeda motor.
"Kalau dilihat ya pasti ada (yang rusak). Rumputnya jadi rusak. Makanya di situ sampai nggak ada tanamannya lagi kan, karena sering diinjek-injek kali begitu," tuturnya.
Subandi mengatakan sejauh ini dirinya belum mengetahui adanya kecelakaan akibat pemotor menerobos taman tersebut. Namun, dia menilai kondisi itu tetap berisiko, terlebih kendaraan yang melintas di sekitar lokasi cukup ramai.
"Untungnya sih kagak ada (yang celaka). Cuma kalau warga sini mah sudah dibilangin jangan lewat situ. Ngeri kalau kendaraan lagi pada kencang," ujarnya.
Dia berharap akses menuju taman tersebut dapat ditutup atau diberi pembatas agar tidak kembali digunakan sebagai jalur motor.
"Mungkin harus dibuat pembatas atau ditutup sekalian. Kalau cuma ditanami atau dibatasi rumput, biasanya tetap dicari celah. Harus ada pembatas yang jelas supaya motor nggak bisa naik ke taman," ucapnya.
"Sayang juga tanaman bagus malah rusak. Orang sini mah pada nggak bisa dibilangin," imbuhnya.
Hal senada disampaikan Wawan (37), warga yang sehari-hari bekerja sebagai tukang tambal ban di sekitar lokasi. Dia mengatakan pemotor cukup sering melintasi area taman, terutama ketika kondisi jalan utama sedang padat.
"Lumayan sering. Apalagi kalau kondisi jalan lagi padat. Mereka kan cari jalan paling cepat buat balik arah," kata Wawan.
Dia juga mengaku pernah melihat pengendara hampir bersenggolan ketika sama-sama hendak keluar dari area taman.
"Pernah ada yang hampir bersenggolan. Karena dari dua arah sama-sama mau keluar dari area taman. Untungnya nggak sampai jatuh," katanya.