Menurut BRIN, api yang membakar lahan gambut tidak selamanya terlihat di permukaan. Pada peristiwa baru-baru ini, contohnya, lahan gambut yang terbakar dari dalam hanya mengeluarkan asap tanpa memperlihatkan api di permukaannya.

Lahan gambut tidak menghasilkan api yang besar, tetapi karena terjadi di dalam tanah, membuatnya susah dipadamkan. Meski penyebaran apinya lambat, akan meluas seiring waktu. Proses ini disebut smoldering.

Maka itu, BRIN menekankan bahwa menjaga ekosistem lahan gambut sangat penting. Terutama agar lahan gambut tidak kehilangan sumber air alaminya, sehingga saat kemarau, tetap bisa basah.

Saat lahan gambut dijadikan lahan budidaya, potensi kebakaran di dalam tanah bisa meningkat. Meski di kawasan perkebunan dibangun kanal untuk mengatur aliran air, hal ini bisa berujung pada muka air tanah yang turun terlalu rendah sehingga gambut menjadi lebih kering dan rentan terbakar.

"Salah satu faktor yang dapat menyebabkan gambut mengering adalah pembangunan kanal. Kanal mengubah tata air dengan mengalirkan air dari kawasan gambut menuju wilayah yang lebih rendah. Penurunan muka air tanah akibat kondisi tersebut dapat membuat lapisan gambut kehilangan kelembapannya," ujar Albertus.